Showing posts with label romance. Show all posts
Showing posts with label romance. Show all posts

Friday, October 28, 2016

Mas Din


Sudah saya bilang saya pasti menikah. Pasti. Mungkin bulan depan. Atau barangkali keberuntungan datang di bulan berikutnya. Setidaknya saya memancarkan sinyal pada setiap lelaki yang saya rasa pas untuk jadi imam saya. Dan saya rasa sikap Ibu menjodoh-jodohkanku dengan peranakan rekanannya terlalu berlebihan. Apalagi tetiba datang di rumah saya di Jogja dengan sejumlah bunga, lelaki yang tak saya kenal, dan kemudian dia memperkenalkan diri, dan dia memberitahu saya sudah mendapat restu orang tua saya. Sebercanda inikah cara Ibu?
Saya bisa mengatasi ini sendiri.
Barangkali Ibu sakit hati dengan jawabanku soal Mas Din. Tetapi bukan dengan cara mengirim pria berjas-berdasi-berkoper-bermobil-bersepatu mengkilap-bercincin akik ke jogja. Saya tidak mempermasalahkan lingkaran perut pria tersebut yang terlalu mencolok, bisa jadi kalau cocok saya bisa memilihnya. Setidaknya beritahu saya. Pertemukan kami dengan baik-baik. Ah. Saya tidak paham lagi jalan pikiran Ibu. Dan setiap saya mencoba membuka sedikit perbincangan dapur, ibu selalu saja mengungkit-ungkit Mas Din lagi. Dia lagi.
Saya bisa mengatasi hal ini sendiri. Setidaknya soal jodoh, itu masalah mudah bagi saya. Saya punya banyak mahasiswa yang berusia tidak jauh berbeda dari saya. lima sampai tujuh tahun paling bedanya. Tinggal saya pilih yang saya rasa cocok. Mereka tak akan mampu membuat negosisoasi selain mengiyakan.
Atau, barangkali dengan mahasiswa saya sendiri itu terlalu bercanda, saya punya banyak rekanan dosen. Pak Amri misalnya, dokter hewan spesialis Kuda, duda beranak tiga. Ganteng, gagah, anaknya juga lucu-lucu. Lebih-lebih mereka sudah akrab dengan saya. Dan apa yang perlu saya khawatirkan lagi kalau-kalau Pak Amri jelas-jelas menyukai saya. Setidaknya saya tahu dari kabar burung, meskipun entah burung siapa.
Tapi kenapa Ibu sedemikian khawatir dengan saya? Saya belum juga terlalu tua. Bahkan kalau boleh saya membuat frasa, ‘lagi mateng-matengnya’. Masih segar menyegarkan.
Soal cucu? Bukankah ibu sudah menimang lima cucu. Lucu-lucu dan menggemaskan. Dua dari Dik Tari, dua lagi dari Dik Pras, dan satu lagi bonus. Ibu mengadopsi dari panti. Apakah kurang?
Ah, barangkali saya lupa soal mulut-mulut itu. Yang rendah tapi memekakan, yang tidak terdengar tapi membuat telinga pekak. Iya, barangkali itulah yang membuat ibu memaksaku untuk segera menikah. Sebagai anak pertama, dilangkahi menjadi sesuatu yang tabu. Bahkan sebagian orang di kampung kami dianggap sebagai penghambat jodoh bagi yang didauhuli oleh adiknya. Sementara saya, kesemua adik saya sudah menggenap. Meskipun usianya tidak berbeda jauh. Tapi, bukankah sejak Ustad Ali datang menabur wasiyat tentang bab agama, Beliau selalu bilang bahwa hal itu tidak korelatif, pasal nikah, Sang adik mendahului kakaknya, menghambat jodoh, menutup jodoh, barangkali warga kami sudah mulai mengubur pasal itu. Bukankah Mbakyu Lena, yang bahkan sudah dilangkahi tiga adik laki-lakinya, baru menyudahi masa sendirinya kemarin sore, di usianya tiga puluh tujuh tahun. Beruntungnya dia, bahkan mendapat saudagar kaya, berusia sedikit lebih muda. Setidaknya itu bisa menjadi dalih bagi saya. Sebuah inspirasi dikemuningnya persoalan yang sedang melanda saya, bukan?
Bukan, bukan. Ini pasti bukan pasal mulut-mulut itu. Terlalu remeh juga kalau ini soal cucu-cucu. Ini pasti soal Mas Din. Tidak salah lagi.
Bukankah minggu lalu Mas Din menelpon saya. Memberitahu akan datang ke rumah Ibu. Iya. Ini pasti karena dia Mas Din. Apa yang dilakukan Mas Din di rumah? Kiranya dia tega menceritakan semua tentang kita? Atau Mas Din menceritakan yang bukan-bukan, barangkali ditambahi penyedap sehingga Ibu semakin megap-megap.
Tapi bukankah Saya sudah tidak bertemu dengan Mas Din lebih dari setengah tahun lalu. Sejak dia meninggalkanku dengan boneka beruang –sebesar beruang asslinya, yang bisa kupeluk bahkan seperti kasurku sendiri– di kelas. Sebagai dosen, dan juga dokter hewan, saya merasa sangat melankolis mendapatkan hadiah dari mahasiswa saya. ketika kelas sudah berakhir, Mas Din, mahasiswa dokter spesialis bedah dan bedah plastic hewan yang sangat menunjukkan kecerdasannya di kelas, tidak terlihat batang hidungnya. Hingga saat saya hendak keluar kelas, boneka itu menghalangi saya tepat di mulut ruang kelas. Kemudian dia berbicara, bagaiaman mungkin suara beruang adalah suara Mas Din. Saya sungguh terperana olehnya. Sialnya dia begitu kejam menghilang. Menghilang tepat setelah semalaman saya memeluk boneka beruang itu.  
Ah, bagaiaman malah figura itu yang muncul? Menghilangnya adalah pekat. Bahkan mematikan. Saya harus benar-benar melupakannya.
Kemudian untuk apa Mas Din datang ke rumah? Pasti dia menceritakan segalanya. Pada Ibu.

(bersambung…)

Monday, October 24, 2016

Bingkai yang Tersapu Angin


Bukankah ini menarik. Gambar-gambar yang tertangkap lensa pada sudut dan waktu yang tepat. Dengan intensitas cahaya yang pas, serta dibumbui sepoi angin, adalah kala yang tepat untuk membingkai momen dalam sebuah potret. Dan itu akan menjadi lebih indah jika kau ada di antara waktu dan ruang yang sama.
Aku tengah memilih diantara gambar yang sengaja telah kucetak cukup banyak. Kutata dan kurangkum potret demi potret yang melukiskan keindahanmu. Yang mengabarkan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Aku selektif dalam memilih gambar terbaik tentang dia. Aku ingin karya indah ini menjadi sebuah totalitas bagiku dalam mengagumi sebuah rasa. Tentang sebuah rasa yang mungkin orang-orang biasa menyebutnya dengan cinta.
Hari ini adalah hari yang kutunggu tunggu. Bukan karena hari ini aku ingin memberikan hadiah ini kepadanya, tapi karena bagiku. Setiap detik aku bisa melihatnya adalah sebuah alasan yang membuat aku selalu ingin hidup dan terus mensyukuri hidup. Bagiku pertemuan dengannya adalah surga yang Tuhan bisikkan padaku.
 Hai kau. Gadis yang menamatkan hatiku. Aku pikir aku adalah lelaki yang bisa berdamai dengan waktu. Berdamai dengan setiap kerinduan yang membuatku selalu haus. Nyatanya tidak. Aku dehidrasi. Bahkan tengggorokan ku terasa kering. Karena menanti hadirnya kelembutan cinta darimu.
“Sore…“ Kamu tersenyum.
Hening,
“Ini beneran nggakpapa akang ajak kamu jalan.”
“Gapapa Kang, mumpung masih di Cirebon. Pekan depan Mimi udah harus balik  ke Jogja. Lagian udah lama juga nggak ngobrol sama akang.”
Baiklah, Aku tidak akan membuat seharianmu ini sia-sia. Aku tidak akan membiarkanmu menyesali perjalanan kita sore ini. Percayalah.
“Kang Madi bawa kamera kan?”
Aku mengangguk, kamu terlihat antusias sekali. Kemudian kau merengek manja. Memintaku untuk mengajarimu menggunakan kamera. ah. Lucu sekali.
“Jadi begini, Mi.” Tanpa sengaja tangan kami bersentuhan, “Bagian ini untuk mengambil fokus, nah yang ini untuk mengatur intensitas cahaya, sedangkan yang ini untuk ketajamannya. Sekarang coba ”
“Wah iya bagus.. ” Kemudian kamu tertawa. “Sepertinya saya butuhs model Kang, biar gambar saya lebih sempurna.”
Aku pura-pura menoleh. Ke kanan ke kiri. Padahal aku berharap kamu memintaku.
“Kang Madi, sok ateuh.” suaramu lembut menggelegarkan hatiku. persis seusai yang kuinginkan. Tapi aku melongo. Pura-pura bingung.
“Kang, buruan. Mumpung sepi. bediri di sana.” Kamu tertawa lagi. Ah lucunya.
Dan aku berdiri persis di depan kamera yang kau peganag. Menggumpalkan senyum terindah yang bisa kuberikan. Kuberharap dapat memberikan kesan terbaik pada gambar yang kau ambil.
Katamu “Sok ganteng kamu, kang.” Dan aku pun tersenyum malu. Bukan. Malu yang bercampur bahagia. Karena dengan ini kamu mengakui ketapananku. Ah. indahnya saat kau memujiku demikian.
Dan hari itu menyenangkan. Yang pertama karena aku bisa jalan dengan kamu. Yang kedua karena kamu mau jalan denganku. Dan yang ketiga, kamu kelihatan begitu bahagia. Dan itu menggenapkan perasaanku.
Tidak terasa waktu pun menggelincir begitu landainya hingga tirau senja menggantung di ujung katulistiwa. Ah, barangkali cinta dapan mengubur waktu dalam-dalam. Setidaknya aku merasakan kebahagiaan. Dan yang lebih penting, aku merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan.
Aku jadi teringat dengan kado yang sudah kusiapkan. Foto-foto tentang dia yang sudah kurangkum dalam bingkai yang indah. Beserta dengan puisi-puisi yang sudah kurangkai begitu penuh dengan hati. Yang bahkan –andai kau tahu- aku membuatnya hingga aku lupa makan dan tidur. Supaya kamu terkesan. Supaya kamu tahu selama ini aku menyukaimu.
Kalau begitu, kenapa tidak aku katakana saja padamu secara langsung. Setelah ini. Bahwa aku mencintaimu. Tidak. Tidak sekarang. Aku belum sanggup. Lebih baik aku tunggu dulu reaksimu setelah kuberikan hadiah ini. Iya. Seperti itu lebih baik.
Dan tiba-tiba –karena mungkin aku terlalu lelap dalam lamunanku- aku terjatuh. Sebuah batu yang cukup besar menumbangkan kakiku. Aku tersandung, dan diluar kendali tubuhku mendorong mu. Kita terjatuh. Semua isi tas kelaur berantakan. Berserakan dijalan. Semua mata tertuju pada kita. Keget, terkesiap, melongo, dan diam.
Aku panik dan memunguti semua barang yang keluar. Pun dengan dirimu yang sama halnya dengan ku. Isi tasmu juga keluar. Berantakan. Da hadiah itu. Kumpulan foto tentangmu dengan berbait-bait puisi itu, ikut terjatuh. Terbuka. Tepat pada halaman yang memperlihatkanmu begitu indah dan cantik. Dan buku itu jatuh tepat di depanmu.
Kemudian kamu mematung. Aku pun mematung melihatmu. Malu. Takut. Gugup. Terlilit jadi satu. Kau pun tersenyum. Apakah ada ekspresi yang lebih baik yang bisa kuberikan selain membalas senyummu?.
Pada detik itu juga aku gemetar. Semacam genderang bertabuh kencang dibalik dadaku. Bahagia yang mungkin teramat kencang. Sehingga sulit membedakan apakah aku ini benar-benar bahagia atau ketakutan.
Loh? bahagia? Atas dasar apa aku bahagia? Emang kalau kamu bahagia, itu berarti kamu menyukaiku. Sebentar.
“Ini apa, kang?”
“Itu buat kamu.”
Kemudian kamu tersenyum lagi. Dan dengan sembunyi-sembunyi kau mencoba mengambil salah satu foto yang terserak di depanmu.
Sembunyi-sembunyi? kenapa harus demikian? Ada yang aneh. Itu bukan koleksi fotoku. Itu bukan dariku. Itu bukan foto yang kutata dengan penuh penghayatan. Itu bukan foto yang kuambil. Tapia da wajahmu di sana. Dan.. seseorang disampingmu. Memelukmu.. Dan kalian tersenyum merekah. Dengan background hati merah muda. Mesra.
Hening.
Hening.
Hening.
Kemudian kamu memandangku. Menatap. Seperti mengatakan banyak sekali narasi lewat tatapan. Mungkin paras muka ku berubah. Berubah dengan signifikan. Sehingga kau menyadari itu. Dan kini. Kamu bingung. Aku pun demikian.
Remuk. Hancur. Gundah. Lusuh.
Hening.
Hening.
Suara Adzan Maghrib.
Dan kau tersenyum lagi padaku.
Hening.
“Kamu suka buku itu, Mi?”
kamu menganguk, sambil membalas, “Iya Kang Madi.” Lirih. Hampir tak terdengar.
“Aku lebih senang mendegarnya.” Bahkan dalam memilih kata-kata pun aku tata. Aku begitu takut dan papa. Lupuh rasanya hati ku ini. Tapi setidaknya pewajahanku kuusahakan sekuat tenaga supaya kuat. Kuat menatapmu.
“Oh iya kang. Sebenarnya saya mau ngasih ini dari tadi.” dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sial, kataku. Jangan-jangan dia mau nenunjukkan foto tadi. Sial. Sial. Jangan sekarang Mimi. Demi Tuhan beri aku sedikit waktu untuk memperbaiki paru-paruku yang bocor. Beri aku sepersekian detik terlebih dulu sebelum kau merajam jantungku lebih payah.
“Ini Kang,”
Glek. Aku menelan ludah.
Mataku terbenam. Sekejap, kemudian mengintip. Dan ternyata aku masih bisa bersyukur di detik-detik itu. Bahkan mungkin nafas legaku terdengar begitu kentara olehmu. Bukan foto tadi.
Kupegang benda yang ia beri padaku. Sebuah Passport? Kamu mengajakku jalan-jalan ke luar negeri?
“Datang ya, Kang. Mimi mau nikah akhir bulan Juni.”
Selanjutnya hening. Hening. dan Hening lagi. Atau barangkali aku lupa apa yang aku lakakuan setelah itu.


*passport yang dimaksud adalah undangan nikah dengan desain seperti passport.

Tuesday, August 23, 2016

Hati Dihujan Badai


Saya tidak menduga bisa menjadi seperti ini. Saya pikir lelaki yang datang ke rumah saya dengan tato di sepanjang lengan kanannya itu hanya singgah. Sebatas malam itu. Karena malam itu sudah terlampau hanyut, hujan tiada kunjung berhenti dan halilintar semakin terang-terangan mentubi. Saya tidak pernah menduga. Lelaki yang menggedor-gedor pintu keras sekali, dini hari, dengan keadaan basah kuyup, bibir kecu seperti digincu biru, kini tidur sekamar denganku. Di sebelahku. Satu ranjang denganku. Saat ini.
…
Saya biarkan detak jantung memburu hebat. Dua cangkir teh hangat -satu tanpa gula untuk ayah, saya hidangkan untuk ayah dan tamunya.  Nampak dua pasang mata yang sedari tadi bersitegang, terpecah oleh kedatangan saya. Bergegeas saya suguhkan di atas meja dan kembali ke dalam. Dengan menunduk, tanpa berani melemparkan sepandang mata pun.
Betapa Tuhan menggodaku untuk mendengar apa yang dua lelaki itu bicarakan. Apalagi? Dua pria dewasa, berbicara serius tanpa canda, sesekali menyebut nama saya. Apalagi kalau bukan pasal pernikahan? Kemudian bibir ini perlahan merapal nama Tuhan. Mungkin itu satu-satunya cara yang biasa saya lakukan saat benar-benar getar.
Bagaiamana mungkin ayah akan menikahkanku dengan lelaki itu. Pria yang dikenalnya baru satu bulan yang lalu. Pria yang bahkan bagi saya sendiri tidaklah cukup baik. Bagaiamana tidak?
Malam itu, ketika seisi rumah sepenuhnya tidur, Hujan deras menghujam langit kotaku. Gelap malam sepenuhnya menyelimuti. Dibubuhi bintang dan secarik bulan ditepinya. Dan saya masih terjaga. Entah pukul berapa tepatnya, ketika saya berada tepat dalam persimpangan mimpi, pintu rumah kami tergedor kencang sekali. Kencang sekali. Beberapa saat dan terhenti.
Antara takut, penasaran, dan khawatir, berulat jadi satu. Perlahan saya menerobos gelap menuruni tangga menuju pintu. Kudapati ayah sudah lebih dulu berada tepat di balik pintu tengah bercakap dengan seorang yang tidak bagitu jelas terlihat dari tempat saya. Yang jelas dia seorang pria, basah kuyup, dan bertato di lengan kananya. Saya tidak banyak bergerak, hanya beberapa hal yang terlihat.
Percakapan berlalu cukup singkat, samar-samar tidak jelas. Yang kuyakin, pria itu datang untuk menumpang menginap.
Pagi pun datang. Saya yang semalaman tidak bisa tidur karena merasa atmosfer seisi rumah terganggu dengan kedatangan pria itu. Bukan berlebihan, entah kenapa perasaan saya mengatakan demikian.
Ayah, adik saya yang masih kecil-Fahjan, dan lelaki bertato itu, sholat pada barisan depan. Sedang saya dibelakang. Entah apa cuman perasaan saya saja atau bukan, saya merasa lelaki itu gusar. Bahkan terlihat limbung. Dan tiba-tiba ia bergidik dan mengisak. Air mata perlahan menderas dari pelipih matanya.
“Kau kenapa, Nak.” Sambut Ayah segera usai salam.
Lelaki itu tidak menjawab, dia malah menutupi wajahnya malu. Mungkin malu karena takut terlihat cengeng, atau
“Saya, ini sholat pertama kali saya semenjak sepuluh tahun terkahir.” Suasana hening, dan dia semakin terisak menangis dan mencoba menahannya.
“Tadi siapa, Yah?” Usai lelaki itu pamit pulang, saya segera melepas penasaran.
“Kerabat Ayah, Semalam dia mendapat musibah. Mobilnya dibawa lari orang. Dia tidak tahu harus ke mana di tengah badai semalam.”
“Di bawa lari orang?”
“Iya, mantan istrinya.”
“Ayah mengenal pria itu?”
“Iya, baru saja semalam.”
---

Kami berdua duduk bersitatap, saling menepis pandang untuk melepas kecanggungan. Ayah berusaha meyakinkan saya, sementara saya masih belum menerima alasan ayah. Namun, bukannya sebagai anak perempuan seharusnya saya takdim, patuh dengan yang Ayah sarankan. Selagi itu baik. saya yakin ayah punya alasan lain yang tidak diceritakan semua kepada saya. Ayah menyembunyikannya.
“Ayah merasa Awan cocok buat kamu, Put.” Ayah kembali mengulang kata-katanya, terus, dan terus meyakinkan saya. “Perkembanganya dari hari ke hari sangatlah baik. Dia mulai memperbaiki sholatnya, belajar agamanya, ngajinya.”
Saya tidak sanggup membantah, meskipun hati ini ingin berteriak. Bagaiamana mungkin, ayah akan menikahkan saya dengan seorang lelaki yang sholat saja dia tidak tahu, alif  ba ta saja masih kecemotan, apakah Ayah serius memilihkan laki-laki untuk saya? Calon imam untuk saya? Mungkin diam adalah cara yang menurut saya paling baik untuk mengatakan tidak. Tidak ada orang bisa membantu saya. Semua kerabat sepakat dengan tutur Ayah. Andai saja ada Ibu masih ada.
Lima hari lagi, akad akan digelar. Sementara undangan sudah sampai pada tangan-tangan, KUA sudah juga disiapkan, gedung, dekorasi, kenang-kenangan, fotografi, dan segala hal lainnya sudah disiapkan. Sementara hati saya masih saja belum terasa mantap.
Sudah tiga hari sejak bercakapan itu, saya sengaja tidak memperbanyak percakapan dengan Ayah. Akhir-akhir ini ayah sibuk dengan Quran dan tasbihnya. Sedang diri ini saya usahakan tetap tegar, dan selalu meminta petunjuk yang terbaik dari Nya. Entah perlahan saya merasa bisa menerima dengan apa yang Ayah katakan. Perlahan, saya juga bingung dan semakin tidak mnegerti dengan hati ini.
---

Sudah lima hari semenjak hari pernikahan kami. Saya belum berani bersitatap lebih lama dari satu menit, Saya belum berani berbicara lebih lama dari hanya sekedar meenjawab ‘ya’ dan ‘tidak’. Dan apakah hati ini harus tetap saya pertahankan untuk berkeras hati dengan suami saya sendiri? Padahal sejauh ini saya semakin yakin bahwa Ayah benar, lelaki ini semakin hari semakin baik. Tapi, kenapa hati ini masih susah berbalik wajah.

Friday, August 7, 2015

Rindu




Oleh : M. Riza Rahmat Syah
Untuk kesekian kalinya kau hadir lagi dalam mimpiku. Entah yang keberapa kali. Kau terlalu sering menghadiriku dalam tidurku. Entah harus bahagia atau bermuram durja. Aku bisa bertemu lagi setelah hampir tiga tahun aku tak pernah lagi mampu untuk menemuimu. Meskipun hanya dalam mimpi. Mimpi yang terkadang juga membuatku sedih. Karena aku tersadar bahwa kau memang tidak akan pernah bisa kusentuh lagi. Mimpi yang menyadarkanku bahwa kau hanya akan menjadi penghias mmimpiku. Tanpa pernah akan bisa bertemu lagi.
Tiga tahun lalu. Setelah kejadian mengerikan yang membuat pagar-pagar pembatas itu makin hari makin menebal. Jembatan penghubung yang asri. Ditanami pepohonan hijau dengan semerbak bunga mewangi. Seketika runtuh. Saat aku, dengan tanganku sendiri menghancurkan jembatan yang telah kita bangun bersama. Jembatan yang sudah kita rajut sejak sekian lama. Hingga kau benar-benar marah kepadaku. Kau benar-benar enyah saat melihatku hadir. Sehingga aku memutuskan untuk tidak akan pernah lagi menampakkan diri di hadapanmu. Meskipun aku masih amat sangat mengharapkan waktu bisa mengantarkanku pada waktu kita pertama bertemu. Saat kau menyalami tanganku. Saat aku membawakn ranselmu. Saat pertama kau mengajak makan malam bersamaku. Sungguh pigura-pigura itu masih begitu kental membekas di keningku.
“Hai, bagaimana kabarmu?”
“Aku rasa kita bisa berdamai.”
“Kau sungguh telah memaafkanku?”
“Aku rasa kau juga manusia.”
Lantas kau megulurkan tanganmu. Aku pun ragu untuk menyambutmu. “Kau kenapa?” katamu.
Dengan mantap aku pun menyambut tanganmu. Seketika semua menjadi ringan. Rasa rindu yang menggunung membuncah membentuk taman surga dengan bunga yang bermekaran. Rasa-rasanya aku sungguh bahagia hari ini.
Lantas kau memutarkan lagi lagu kesukaanmu. Lagu yang menjadi kesukaan kita berdua. Rambutmu teruarai tersapu angin. Dengan aroma yang sama persis dengan saat kita bertemu.
Ya, esok harinya aku tersadar itu hanya sebuah mimpi. Mimpi yang membuatku sesak di pagi hari. Membuat hariku terasa tidak enak. Karena hari-hariku harus terhiasi oleh baying-bayang mimpi malam tadi.
Kenapa kau begitu tega memainkanku dengan kehadiranmu dalam mimpi-mimpiku. Kenapa kau tega mengoyak perasaanku yang seketika gonjang-ganjing saat kau hadir dalam mimpi. Mimpi itu seakan harapan palsu. Memberikan suasana dan gambaran yang sangat indah dan apik. Namun dengan mudahnya kau pergi meninggalkan luka di kala sadarku.
Atau mungkin aku yang masih terlalu berhadap denganmu. Sehingga kau selalu menampakkan diri dalam mimpiku. Namun aku ingat kejadian waktu itu, saat kau benar-benar marah padaku. Saat tangan itu dengan lihainya menyerang wajahku. Saat sorot kebencian di matamu yang terhujam ke arahku. Saat nafas itu terdengar menggebu saat kau memukuliku. Kau benar-benar gadis yang berhasil dengan sempurna melumpuhkan hatiku.
Seringkali terbesit dalam pikirku. Adakah di sana kau rindu padaku, meski hanya sekedar ulasan kisah kita tempo lalu. Adakah kau juga mengalami rindu yang hebat seperti yang kuderita. Sehingga menjadi pesakitan sepertiku hanya karena makhluk bernama rindu. Atau jangan-jangan kau juga memimpikanku?
Ah, aku rasa berlebihan. Bahkan namaku saja kau sudah tidak menyimpan dalam dokumenmu. Jangankan nama, aku yakin kau sudah benar-benar melupakanku. Meskupun hati kecilku masih berhadap kau memimpikanku. Walau hanya sekadar.
“Sudahlah Ba. Jangan terus-terusan melipat-lipat hatimu. Hari-hari indahmu masih menunggu di depan.”
“Kamu tidak tahu.”
“Tidak tahu apa? Kau yang terlalu mendramatisir urusan cintamu. Hingga Kau terlihat lemah. Seperti manusia pesakitan.”
“Kau tidak pernah tahu.”
“Terserah kau saja, Ba. Aku hanya tidak ingin sahabatku menderita.”
“Terimakasih Bro. Tapi …”
Dua malam setelah itu. Kau berturut-turut hadir dalam janji palsumu. Iming-iming kebahagiaan yang ternyata hanya berujung kekecewaan. Tiga malam berturut-turut kau tidak pernah absen dalam mimpiku. Apakah kau sengaja membuatku menjadi pesakitan. Memupuk rasa rinduku hingga membuatku kehausan.
Tiga malam. Pertama kau menyalamiku. Kedua kau memelukku. Malam ketiga kau mengajakku menyanyikan lagu tentang kita. Nanti malam apa lagi?
***
Sebatang rokok bertengger di jariku. Asapnya mengepul melebur dengan waktu. Aku pun terbatuk. Tersedak dengan asap rokok yang panas di tenggorokan.
“Kau tidak bisa merokok.” Katamu dulu sambil tertawa. Terbahak melihatku yang menderita. “Aku tahu Kau tidak bisa merokok.”
“Aku bisa.” Kataku mencoba meyakinkan. Namun sepertinya aku bukan pembohong yang ulung. Kuhisap lagi rokok yang melingkar di jari dan aku terbatuk lagi. Dia pun terpingkal lebih keras. Bahkan sampai matanya kebas karena tertawa. “Sudah Kiba. Kau tak usah lagi berbohong.”
“Aku tidak pernah memintamu untuk merokok.”
“Aku juga tidak pernah merasa ada yang memaksaku. Sama halnya aku tidak pernah memaksakan diri untuk mencintaimu.”
Kau lantas diam menatapku. Tawamu meluruh menjadi tatapan yang teduh. “Kau berbeda dengan perempuan lainnya.”
“Bukan kau tahu ini hanya mimpi?”
“Iya, aku sadar sekarang ini kau hanyalah mimpi indahku. Aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau selalu datang ke dalam mimpiku?”
“itu bukan urursanmu.”
“Itu urusanku. Aku lelah terjebak dengan rindu yang kau hadirkan dalam setiap mimpiku.”
“Aku hadir karena kau yang memilihku untuk hadir, Kiba.”
“Kau bohong.”
“Kenapa bisa bilang aku berbohong. Kau yang telah merusak semua ini. Dan kau pula yang tersayat oleh apa yang Kau buat sendiri.”
“Hentikan..!” Rokok yang kupegang kuinjak, “Aku tahu kau hanya mimpi. Sekarang aku tengah bermimpi. Kumohon pergilah dari mimpiku. Dan jangan pernah kembali. Karena kehadiranmu hanya membuat noda dihatiku semakin membesar.”
“Aku tidak akan pergi dari mimpimu. Karena kau masih menghendakiku berada di sini.”
“Pergi..!!!”
Aku pun teriak. Tepat saat aku terbangun dalam mimpiku. Kamar gelap. Purnama masih bertengger di balik jendela. Dadaku sesak. Keringat kebas.
Aku tidak bisa terus terusan begini. Aku tidak bisa membiarkanmu hadir tiap malam. Aku tidak bisa membiarkan kau menjajah mimpiku. Aku harus segera meledakkan rasa rinduku.
Kaumbil semua buku, catatan, foto, dan segala bentuk kenangan yang bisa memunculkan bayanganmu. Kuambil korek dan minyak tanah. Aku segera berlari ke luar untuk membakarnya. Namun aku terhenti tepat di depan pintu.
Kau berdiri tegak di depan pintu kamarku. Wajahmu dingin memandangku. Perlahan musik kenangan kita menggelitik telingaku.
“Sial..! Aku belum terbangun dari tidurku.”

Pekalongan, Juli 2015

Sunday, March 2, 2014

Terlalu Indah

(cerpen, romance, life)

Entah kenapa air mata itu tak mau membuncah, rasanya seperti bisul yang besar, merah merekah, tapi tak kunjung pecah. Tertahan menyakitkan. Atau mungkin matanya sudah jengah harus berjibaku dengan air mata. Atau mungkin otaknya sudah cukup lelah, terlampau lelah dengan gores hidup yang suka memberi kejutan menyakitkan, Lantas enggan mewartakan sinyal pada kelenjar air matanya. Atau mungkin kelenjar air matanya sedang dilanda musim kemarau berkepanjangan. Hm,, entahlah.

Lihat bola mata yang mengisi rongga kepala laki-laki itu. Persis seperti yang digambarkan. Bulat hitam seperti kelereng. Memandangi kehampaan langit yang tiada batas itu. Menatap kekosongan. Entah apa yang sedang berkecamuk di balik kepalanya.
Bersandar pada dinding, tubuhnya tergolek lemas. Atap gedung yang cukup tinggi itu mampu memangkas kepadatan kota dari sudut mata. Hanya langit biru yang mulai gelap membentuk sketsa apik sore itu. di tambah gurat oranye yang membuat mata enggan untuk mengatup. Tenang. Melarutkan pekat yang megumpul pada pedalaman jiwa. Meskipun hanya sesaat. Tapi itu cukup mengobati batin yang penuh koreng.  Sungguh tak ada pohon, bangunan, baliho, atau reklame. Yang ada hanya ke-tak hingga-an pandang. Luas. Bersih. Menyejukkan.
Andai saja bisa menumpahkan kecamuk dalam dada. Mungkin aku akan seketika terbang. Laki-laki itu masih terlihat lemas. Kepalanya mendongak ke atas, mengharap pelangi datang mengguyur tubuh rapuhnya. Dia tersenyum. Entah senyum tulus, atau senyum yang segaja dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat benar-benar tulus. Sesekali menelan ludah. Hatinya terus mendekte, Masih mungkinkah semua ini bisa dibenahi. Ah, itu terlalu muluk-muluk. Berlebihan. Aku tak mau terjebak dengan janji dan harapan semu yang aku buat sendiri. Tanpa ada jaminan. Aku harus memendam percik harapan dan janji itu. Tak perlu.
Nafasnya dalam terdengar tertekan. Nafas yang tertahan. Harusnya lebih  dari ini, Harusnya  lebih kejam dari pada ini. Tuhan masih teramat baik padaku. Masih teramat sangat. Desir angin sore membelai rambut hitamnya. Menyalami tiap pori pada kulit tipisnya. Dingin. Mendung semakin menjadi, Langit yang manja seperti berubah murka. Kilatan cahaya terlukis indah di kanvas tak berujung itu. Seperti akar serabut. Menakjubkan.
Mungkin juga Tuhan tak mau mendengar aduanku, rengekku. Mungkin Tuhan tengah tertidur? Apa Dia kelelahan mendengar sumpah-serapah, aduan, hujatan, dan demo dari orang-orang SEPERTIKU? Makin kacau pikiranku. Mungkin Dia tengah mengutuk dosa yang telah ku perbuat. Tapi bukankah Tuhan yang menentukan peran sertaku di dunia ini? Entahlah. Aku tak paham.
Menyesal? Pasti. Tak luput remuk jiwaku ketika terukir manis masa-masa itu. Hati ini meringis kecut. Tapi, Tapi biarlah cermin itu berpendar. Biarlah. Biarlah terus pergi menjauh tertiup angin.
Tiba-tiba dia tersenyum, nyengir. Giginya yang tidak rata nampak bersembunyi dari dua bibir itu. Kenapa aku bisa melakukan hal sebodoh itu. Bahkan sampai sekarang pun aku tak habis-habisnya berfikir. Atas dasar apa? Karena apa? Apa aku keranjinngan? Apa salah DIA? Pecuma. Sampai sekarang pun aku tak bisa menjawab itu.
Pandangannya melemah, padam. Disaut suara petir yang menggelegar. Namun itu semua tak terdengar oleh sensor telinganya. Ia terlalu sibuk dengan DIA. DIA? Siapa DIA?
***
Panggil saja Aufi, Dia lebih nyaman dipanggil Aufi ketimbang dengan sebutan-sebutan lain, Zafa atau Aliza. Perempuan 23 tahun. Periang. Pekerja keras. Mahasiswa semester akhir di universitas kenamaan di Ibu kota. Satu jurusan denganku, Sastra Indonesia. Kulitnya hitam mengkilat, selalu mencolok pada setiap tempat. Tak masalah, hatinya teramat kontras dengan kulitnya yang pekat. Tak pernah menolak ketika kupintai tolong. Tak pernah punya alasan ketika kuajak keluar. Tak pernah mengeluh ketika ku meminta bantuan tugas-tugas kuliahku. Malah dengan berbesar hati.
Hanya semudah itu, ikatan itu terjalin, terpilin, menjadi benang pelangi. Pelangi yang aku sendiri pun tak pernah melihat sebelumnya. Tak pernah kuduga pula jalinan itu terkembang dengan eloknya. Sampai, sampai hari di mana pelangi itu berubah menjadi sumbu yang tersulut api. Meledakkan kedua belah sisi. Hangus-Gosong.
“Asu..!!” Teriakan laki-laki gemuk memecah tenang. Aufi yang tengah tertidur, terbangun seketika. Matanya yang masih merah di kucek oleh tangannya. Rambutnya berantakan acak-kadut.
“Ngapain Kamu Met? Berisik tau..” Aufi terbangun menatap tingkah laki-laki gendut itu yang tidak sewajarnya. “Nggak tahu apa gua lagi mimpi indah.” Matanya melirik mengadu pada pada laki-laki gemuk itu.
Lalu menyelidik, tiba-tiba tubuhnya terkesiap. Matanya melotot penuh tanya-curiga. Berganti rasa takut. Suasana menjadi tegang. Mengerikan.
Laki-laki gendut itu sadar. Seratus persen dalam kesadarannya. Tapi entah. Sebuah belati tergenggam erat pada tangannya. Ditudingkan menghunus pada muka Aufi. Aufi pun meloncat menghindar dari belati yang bergerak sembarang, seperti anak jaelangkung yang bergerak sesukanya. Melesat menakutkan.
“Apa-apaan Kamu Met?” Aufi teriak ketakutan, “Kamu mabuk? Kamu kerasukan setan?”
Laki-laki itu bergeming. Seperti tak memperdulikan Aufi yang ketakutan. Bahkan semakin keranjingan. Menyeramkan. Aufi tersudut di pojok kamar sementara laki-laki gendut itu berdiri satu meter di depannya. Seperti harimau yang terkesiap menerkam mangsanya. Matanya tajam, tersenyum sinis.
“Met..!! Gila kamu..!! Sadar..!! Istighfar..!! ” Aufi pun semakin panik berteriak tak karuan. Sial. Tak ada yang mendengar pertandingan menyeramkan itu. Jam kuliah seperti ini, kos-kosan seakan tak bertuan.
Laki-laki itu pun meloncat. Roar..!! Aufi tersungkur, terjerembab telentang. Tubuhnya tak bisa bergerak. Tubuh gendut laki-laki itu mengunci ruang geraknya. Wajah Aufi seketika pucat pasi. Merelakan tubuhnya untuk kemungkinan-kemungkian terburuk. Pasrah menatap wajah laki-laki itu dengan sejuta tanda tanya. Kau kenapa kawan? Apa salahku? Kau kenapa?
Dia, Laki-laki gendut itu, menghunuskan belatinya pada bahu kiri Ali.
“Aaarghh..” Aufi teriak sebisanya melepaskan rasa takutnya.
Meleset..!! tangan Aufi menangkis sigap sehingga belatinya menyobek kulit tipis pada lengan kanannya. Darah pun mengalir. Memancar. Seketika itu pula laki-laki gendut itu terdiam. Seperti kaget bukan kepalang melihat darah yang memancar itu. Bola matanya berputar-putar dan .... “Brukk..!!” Tubuh bongsornya tergeletak pada tubuh Aufi. Suasana seketika redup. Seakan waktu terhenti. Lenggang. Disusul kicau burung pipit yang seakan-akan turut prihatin.
 Aufi masih terlalu bingung dengan fenomena yang datang penuh kejut itu. Ia menyingkirkan tubuh berat yang tanpa daya itu. Menatapnya lamat-lamat. Wajahnya redup, namun berubah mengerikan. Masih dengan sejuta tanda tanya. Ada apa dengan kawanku ini?
***
Seminggu sudah terlewat. Laki-laki gendut itu tengah duduk di sebuah ruang 4 x 5 meter, ditemani seorang pria bertubuh besar dengan kumisnya yang berantakan. Benar sekali. Kantor polisi.
Ternyata saat kejadian mengerikan itu berlangsung, Ibu kos melihatnya. Dengan paniknya, segera dia panggil kantor polisi terdekat. Dan hari-hari tegang pun dimulai. Aufi, Ibu kos, dan Laki-laki gendut itu dimintai keterangan. Sedetail-detailnya.
“Aku... A..” Laki-laki gendut itu tersendat-sendat mengakui kenyataan yang benar ia sendiri lakukan. Lidahnya kelu, ”Demi Tuhan Pak. Aku tak mungkin membunuh Aufi, sahabatku. Bahkan berfikir untuk menyakitinya pun aku tak pernah.” Laki-laki gendut itu menjawab satu demi satu pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan. Menjelaskan apa yang dia tahu. Menceritakan apa yang dikehendaki pria berkumis berantakan itu. “Tapi demi Tuhan, aku tak akan mau. Demi Tuuhan Pak.. Aku nggak ada niatan pun buat membunuh.”
Tapi percuma. Laki-laki gendut itu hanya menjawab “tidak tahu”, menggeleng, bingung, bahkan bertanya-tanya tentang kejadian yang jelas benar adanya.
Tiga hari berikutnya, Laki-laki gendut itu dilarikan ke psikiater.
“Sungguh Bu, jika benar adanya. Aku tidak akan pernah mau melakukan hal itu. Aku tak ingin ditakdirkan menjadi pembunuh jadi-jadian. Bahkan aku mengutuk diriku sendiri yang telah melakukan hal bodoh macam itu. Aku tidak mungkin melakukan itu. Demi tuhan.” Gerutu laki-laki itu meminta perlindungan.
Lima hari laki-laki gendut itu menjalani pemeriksaan, melakukan obrolan-obrolan sederhana dengan psikiater, dipeiksa lagi, diwawancara lagi. Dan begitu seterusnya.
Sampai datang hari di mana Laki-laki gendut itu dibebaskan dari segala tuduhan yang menjeratnya. Ia hanya wajib datang setiap satu bulan sekali selama satu tahun ini pada kantor polisi. Ia bersyukur, namun berujung air mata. Kabar yang menyakitkan itu datang seperti petir di siang bolong. Selembar surat yang digenggamnya lusuh. Membawanya dalam ombang-ambing jiwa. Surat? Surat apa?
Lantas bagaimana dengan Aufi? Berubah, semua berubah. Seminggu pertama setalah kejadian itu, Aufi benar-benar tak mau bicara. Mengunci rapat-rapat mulutnya. Sering kali ia melamun. Tidur pun tak menentu. Bahkan ia tak mau makan selama tiga hari. Ia selalu ketakutan ketika nama laki-laki gendut itu disebut, ketika foto laki-laki gendut itu dilihatnya. Semua itu dibakar oleh ketakutannya yang teramat sangat akan kejadian itu. Trauma.
Dua bulan. Dua bulan waktu berjalan teramat lambat bagi dua insan itu. Setelah sekian lama tak berjumpa, Laki-laki gendut itu memutuskan untuk berkunjung, sekedar menengok karibnya itu. Ingin meminta maaf, ingin bercerita..
Di depan pintu kos itu. Langkah kakinya terhenti. Mereka pun bersitatap. Seper sepuluh detik, seperempat detik, setengah detik, satu detik, dua detik. “Duar..!!” Pintu kamar itu dibantingnya keras-keras. Laki-laki itu tegap berdiri manatap. Seperti dilindas truk jantungnya. Ia lebih ngeri melihat mata Aufi yang masih amat ketakutan. Tapi juga menyimpan belas kasih pada laki-laki itu. Kasihan.
Menyedihkan memang, tapi biarlah. Biarlah.
Lalu siapa aku?
Ya, kau benar sekali. Aku adalah lelaki gendut itu. Tak usah lah kalian mengenalku, apalagi berteman denganku. Aku tak ingin kalian juga terluka seperti sahabatku, Aufi. Bukan, bukan hanya sekedar sahabat. Aku telah jatuh cinta pada perempuan jelita itu, sejak dulu.
***
Masih di atap gedung itu. Sempurna sudah gelap malam membungkus langit sore. Kumandang adzan bersahutan mengundang insan yang terundang. Sepucuk surat tergenggam, tersimpan getir yang amat. Lelaki itu merigis memandangnya. Tawa setanpun meluncur dari kerongkongannya, “Hahahaha..!!”
Mengertilah kiranya jika kau mendapati sebuah penyakit menakutkan yang telah berinang di tubuhmu. Sayangnya ini bukan penyakit fisik yang bisa diremuk begitu saja. Psikiater itu, JIWAKU. Ada yang salah dengan jiwaku. Mungkin akalku sudah tak sanggup lagi perpijar. Mungkin sampai esok, lusa, atau pun nanti. Hingga redup, dan mati.
Aku tak begitu tahu dengan suratan takdir. Tapi aku tahu, Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah untuk ku. Sebenar-benarnya. Seadil-adilnya.
Dan hujan pun lengkap membungkus kelam malam itu. Karena hujan, memang akan selalu datang. Ya, hidup itu terlalu indah bukan?


Sudut kota Yogyakarta

Februari 2014