Monday, October 24, 2016

Bingkai yang Tersapu Angin


Bukankah ini menarik. Gambar-gambar yang tertangkap lensa pada sudut dan waktu yang tepat. Dengan intensitas cahaya yang pas, serta dibumbui sepoi angin, adalah kala yang tepat untuk membingkai momen dalam sebuah potret. Dan itu akan menjadi lebih indah jika kau ada di antara waktu dan ruang yang sama.
Aku tengah memilih diantara gambar yang sengaja telah kucetak cukup banyak. Kutata dan kurangkum potret demi potret yang melukiskan keindahanmu. Yang mengabarkan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Aku selektif dalam memilih gambar terbaik tentang dia. Aku ingin karya indah ini menjadi sebuah totalitas bagiku dalam mengagumi sebuah rasa. Tentang sebuah rasa yang mungkin orang-orang biasa menyebutnya dengan cinta.
Hari ini adalah hari yang kutunggu tunggu. Bukan karena hari ini aku ingin memberikan hadiah ini kepadanya, tapi karena bagiku. Setiap detik aku bisa melihatnya adalah sebuah alasan yang membuat aku selalu ingin hidup dan terus mensyukuri hidup. Bagiku pertemuan dengannya adalah surga yang Tuhan bisikkan padaku.
 Hai kau. Gadis yang menamatkan hatiku. Aku pikir aku adalah lelaki yang bisa berdamai dengan waktu. Berdamai dengan setiap kerinduan yang membuatku selalu haus. Nyatanya tidak. Aku dehidrasi. Bahkan tengggorokan ku terasa kering. Karena menanti hadirnya kelembutan cinta darimu.
“Sore…“ Kamu tersenyum.
Hening,
“Ini beneran nggakpapa akang ajak kamu jalan.”
“Gapapa Kang, mumpung masih di Cirebon. Pekan depan Mimi udah harus balik  ke Jogja. Lagian udah lama juga nggak ngobrol sama akang.”
Baiklah, Aku tidak akan membuat seharianmu ini sia-sia. Aku tidak akan membiarkanmu menyesali perjalanan kita sore ini. Percayalah.
“Kang Madi bawa kamera kan?”
Aku mengangguk, kamu terlihat antusias sekali. Kemudian kau merengek manja. Memintaku untuk mengajarimu menggunakan kamera. ah. Lucu sekali.
“Jadi begini, Mi.” Tanpa sengaja tangan kami bersentuhan, “Bagian ini untuk mengambil fokus, nah yang ini untuk mengatur intensitas cahaya, sedangkan yang ini untuk ketajamannya. Sekarang coba ”
“Wah iya bagus.. ” Kemudian kamu tertawa. “Sepertinya saya butuhs model Kang, biar gambar saya lebih sempurna.”
Aku pura-pura menoleh. Ke kanan ke kiri. Padahal aku berharap kamu memintaku.
“Kang Madi, sok ateuh.” suaramu lembut menggelegarkan hatiku. persis seusai yang kuinginkan. Tapi aku melongo. Pura-pura bingung.
“Kang, buruan. Mumpung sepi. bediri di sana.” Kamu tertawa lagi. Ah lucunya.
Dan aku berdiri persis di depan kamera yang kau peganag. Menggumpalkan senyum terindah yang bisa kuberikan. Kuberharap dapat memberikan kesan terbaik pada gambar yang kau ambil.
Katamu “Sok ganteng kamu, kang.” Dan aku pun tersenyum malu. Bukan. Malu yang bercampur bahagia. Karena dengan ini kamu mengakui ketapananku. Ah. indahnya saat kau memujiku demikian.
Dan hari itu menyenangkan. Yang pertama karena aku bisa jalan dengan kamu. Yang kedua karena kamu mau jalan denganku. Dan yang ketiga, kamu kelihatan begitu bahagia. Dan itu menggenapkan perasaanku.
Tidak terasa waktu pun menggelincir begitu landainya hingga tirau senja menggantung di ujung katulistiwa. Ah, barangkali cinta dapan mengubur waktu dalam-dalam. Setidaknya aku merasakan kebahagiaan. Dan yang lebih penting, aku merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan.
Aku jadi teringat dengan kado yang sudah kusiapkan. Foto-foto tentang dia yang sudah kurangkum dalam bingkai yang indah. Beserta dengan puisi-puisi yang sudah kurangkai begitu penuh dengan hati. Yang bahkan –andai kau tahu- aku membuatnya hingga aku lupa makan dan tidur. Supaya kamu terkesan. Supaya kamu tahu selama ini aku menyukaimu.
Kalau begitu, kenapa tidak aku katakana saja padamu secara langsung. Setelah ini. Bahwa aku mencintaimu. Tidak. Tidak sekarang. Aku belum sanggup. Lebih baik aku tunggu dulu reaksimu setelah kuberikan hadiah ini. Iya. Seperti itu lebih baik.
Dan tiba-tiba –karena mungkin aku terlalu lelap dalam lamunanku- aku terjatuh. Sebuah batu yang cukup besar menumbangkan kakiku. Aku tersandung, dan diluar kendali tubuhku mendorong mu. Kita terjatuh. Semua isi tas kelaur berantakan. Berserakan dijalan. Semua mata tertuju pada kita. Keget, terkesiap, melongo, dan diam.
Aku panik dan memunguti semua barang yang keluar. Pun dengan dirimu yang sama halnya dengan ku. Isi tasmu juga keluar. Berantakan. Da hadiah itu. Kumpulan foto tentangmu dengan berbait-bait puisi itu, ikut terjatuh. Terbuka. Tepat pada halaman yang memperlihatkanmu begitu indah dan cantik. Dan buku itu jatuh tepat di depanmu.
Kemudian kamu mematung. Aku pun mematung melihatmu. Malu. Takut. Gugup. Terlilit jadi satu. Kau pun tersenyum. Apakah ada ekspresi yang lebih baik yang bisa kuberikan selain membalas senyummu?.
Pada detik itu juga aku gemetar. Semacam genderang bertabuh kencang dibalik dadaku. Bahagia yang mungkin teramat kencang. Sehingga sulit membedakan apakah aku ini benar-benar bahagia atau ketakutan.
Loh? bahagia? Atas dasar apa aku bahagia? Emang kalau kamu bahagia, itu berarti kamu menyukaiku. Sebentar.
“Ini apa, kang?”
“Itu buat kamu.”
Kemudian kamu tersenyum lagi. Dan dengan sembunyi-sembunyi kau mencoba mengambil salah satu foto yang terserak di depanmu.
Sembunyi-sembunyi? kenapa harus demikian? Ada yang aneh. Itu bukan koleksi fotoku. Itu bukan dariku. Itu bukan foto yang kutata dengan penuh penghayatan. Itu bukan foto yang kuambil. Tapia da wajahmu di sana. Dan.. seseorang disampingmu. Memelukmu.. Dan kalian tersenyum merekah. Dengan background hati merah muda. Mesra.
Hening.
Hening.
Hening.
Kemudian kamu memandangku. Menatap. Seperti mengatakan banyak sekali narasi lewat tatapan. Mungkin paras muka ku berubah. Berubah dengan signifikan. Sehingga kau menyadari itu. Dan kini. Kamu bingung. Aku pun demikian.
Remuk. Hancur. Gundah. Lusuh.
Hening.
Hening.
Suara Adzan Maghrib.
Dan kau tersenyum lagi padaku.
Hening.
“Kamu suka buku itu, Mi?”
kamu menganguk, sambil membalas, “Iya Kang Madi.” Lirih. Hampir tak terdengar.
“Aku lebih senang mendegarnya.” Bahkan dalam memilih kata-kata pun aku tata. Aku begitu takut dan papa. Lupuh rasanya hati ku ini. Tapi setidaknya pewajahanku kuusahakan sekuat tenaga supaya kuat. Kuat menatapmu.
“Oh iya kang. Sebenarnya saya mau ngasih ini dari tadi.” dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sial, kataku. Jangan-jangan dia mau nenunjukkan foto tadi. Sial. Sial. Jangan sekarang Mimi. Demi Tuhan beri aku sedikit waktu untuk memperbaiki paru-paruku yang bocor. Beri aku sepersekian detik terlebih dulu sebelum kau merajam jantungku lebih payah.
“Ini Kang,”
Glek. Aku menelan ludah.
Mataku terbenam. Sekejap, kemudian mengintip. Dan ternyata aku masih bisa bersyukur di detik-detik itu. Bahkan mungkin nafas legaku terdengar begitu kentara olehmu. Bukan foto tadi.
Kupegang benda yang ia beri padaku. Sebuah Passport? Kamu mengajakku jalan-jalan ke luar negeri?
“Datang ya, Kang. Mimi mau nikah akhir bulan Juni.”
Selanjutnya hening. Hening. dan Hening lagi. Atau barangkali aku lupa apa yang aku lakakuan setelah itu.


*passport yang dimaksud adalah undangan nikah dengan desain seperti passport.

1 comment: