Wednesday, July 23, 2014

KAMIS PERTAMA



(lanjutan dari cerpen HARI INI HARI RABU)
Sungguh. Bukan karena fisik aku menjauhinya. Bukan karena wajahnya aku mengacuhkannya. Bukan pula karena harta aku menghindarinya. Aku suka. Aku suka Lanang. Tapi, tapi ada yang mengganjal pada hatiku. Dan aku pun kesulitan untuk mencari tahu apa itu.
Bukannya sombong, tapi beginilah diriku. Kebetutlan sekali Tuhan menitipkan padaku paras yang amat cantik. Tubuhku dibalut dengan kulit khas jawa yang kuning lasngsat, lembut lagi halus. Rambut pekat hitam yang menggulung ombak menjadi mahkota dikepalaku. Ditambah lagi kecerdasanku yang menyetarai Einsten. Bukannya melebih-lebihkan, tapi beginilah adanya aku. Gelar mahasiswa berprestasi pun kusabet. Bahkan sering diundang pada berbagai acara sebagai pembicara utama. Tuhanlah yang berlebih-lebihan memberikan nikmatnya padaku. Apa bisa kukata? Hanya syukur yang sanggup terucap.
Tiada bisa dibantah. Kesempurnaan hakikatnya adalah milik Tuhan bukan? Banyak yang berfikir bahwa aku bahagia dengan segala ‘pernik’ yang melekat padaku. Banyak yang berfikir betapa beruntungnya menjadi sepertiku. Banyak yang bercita dan berkejaran untuk menjadi sepertiku. Tidak sedikit pula laki-laki yang mencintaiku? Tapi untuk apa?
Ada yang cacat pada diriku. Dan kau perlu tahu.
Sudah puluhan macam jenis laki-laki yang tertarik padaku, mengajakku kencan, mengajak jalan, dari yang berparas tampan, sedang, hingga pas-pasan. Dari yang beruang, sampai yang berutang. Tak ada satu pun yang membuatku tertarik. Mungkinkah hatiku terlalu keras? Apakah aku seorang lesbian? Bodoh..!! Aku pun tak pernah tertarik dengan perempuan. Apakah hatiku benar-benar mati rasa?  Atau memang perasaanku tidak mampu menangkap sinyal yang dipancarkan oleh orang lain.
Dan kau tahu? Aku tidak bisa merasakan bahagia seutuhnya. Dunia ini terasa hambar dengan segala pesolek di dalamnya. Seperti ada syaraf yang pincang dan tidak bisa mentransfer kebahagian dilingkunganku hingga menembus tepat di jantungku. Dan aku harus bagaimana?
Lanang. Laki-laki yang sempat mebuat pikiranku lelah dibuat olehnya. Lelah dengan segala tingkah konyolnya, tingkah ekstrimnya, dan tingkahnya yang selalu menyisakan tanda tanya. Kau tahu? Aku tidak pernah bisa melupakan pertemuan lucu itu.
“Hai kamu?” suara cemprengnya lebih buruk dari kuda yang tertawa. “Nama kamu siapa?” Aku yang sedang jogging di bouluvard merasa terganggu dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan sungguh menyebalkan. Aku pun terhenti. Kuusap keringat yang bercucuran pada wajah dan leherku. Kutampakkan wajah yang angkuh dan tidak bersahabat. Wajahnya yang pas-pasan membuatku ingin segera enyah dari hadapannya.
Setangkai mawar merah pun melesat di depan ku. Aromanya yang khas menelusup hidungku. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Demi Tuhan! Makhluk apakah yang sedang menguji diriku ini. Bantulah hamba minggat dari makhluk ini. Buat aku pingsan Tuhan. Aku pun ketus melihatnya, al hasil dia malah tersenyum. Aku pun menghindar dan kabur darinya.
Begitulah kesan bodoh yang membuat hidupku sedikit berbeda. Yang awalnya abu-abu kini mulai muncul bercak pelangi. Entah bagaimana ceritanya kita bisa dipertemukan dalam ruangan. Waktu itu aku diundang sebagai pengisi di acara talkshow salah satu kegiatan mahasiswa di kampus, dan kebetulan atau kesialan, Lananglah moderatornya.
“Maaf mbak Jasmine, sudah lama menunggu?” seorang yang sudah lama kutunggu pun datang dengan tanpa rasa bersalah atas keterlambatannya.
“Iya, mas. Nggak masalah.” Dan ketika aku melihat wajahnya yang menurutku jelek itu membuat nafasku seketika berat.  “Kamu..!!”
“Iya Mbak? Udah ingat saya?” dia pun duduk sambil menyalamiku. Kujabat tangannya yang terulur. Aku pun masih bingung dan kaget dengan kedatangannya,
“Kok kamu bisa di sini?”
“Iya Mbak, demi mendapatkan cinta mbak Jasmine, saya rela ngejar-ngejar mbak hingga ke ujung dunia pun.” Mulutnya pun mulai berkowar tak tahu malu. “Gimana mbak dengan tawaran  saya tiga hari lalu? Mau jadi pacar saya?”
Aku pun mulai naik darah, rasa-rasanya ingin menumbat mulut bocornya yang seenaknya berkata.  Senyum palsu pun kupaksakan menenggealamkan wajahku yang mulai berkerut emosi. “Nggak harus dijawab sekarang kok mbak Jasmine.  Kita bahas materi talk show aja.”  Dia pun nyengir seperti kuda.
Obrolan pun melelehkan kebekuanku. Ternyata memang dia agak gila, nggak punya malu, dan memang suka bercanda. Jadi kusimpulkan secara dangkal bahwa dia hanya bercanda mengenai tingkah dan kata-kata konyol yang membuat darahku terpompa.
Namanya Lanang, seorang editor di salah satu surat kabar di Yogyakarta. Banyak sedikit, cerita pengalaman hidupnya memenuhi ruang imajinasiku. Bagitu juga denganku, dia antusias sekali dengan setiap sketsa yang kususun dalam kata-kata. Aku rasa tidak masalah ketika menjadikannya temanku. Lucu dan menyenangkan.
Pendek cerita, kita jadi sering ngobrol bareng, makan bareng, sesekali juga jogging bareng dikala ada jadwal senggang yang sama. Dan waktu itu aku lupa dengan kondisi hatiku yang kemarin sedang tertidur. Dia terabaikan.
Dua bulan. Bukanlah waktu yang lama untuk mengenal, tidak juga terlalu cepat untuk mengetahui. Tapi bagaimana dengan satu hal yang mengguncang?
“Jasmine, Kamu mau kan bertunangan denganku?” Toba-tiba lanang bertekuk di depanku. Lucu. Hampir setiap hari Lanang menyatakan kalimat basi itu dihadapanku. Hanya saja ini berbeda, tunangan‘. Aku pun hanya bisa tersenyum, menghormati usahanya untuk membuatku tersenyum.
“Haha, gimana proyek kamu kemarin Nang?” aku mencoba mengalihkan. Namun ternyata salah, wajahnya tegang menyorot pada mataku. “Nang..?” Aku mencoba memastikan Laki-laki ini hanya sedang bercanda. Aku pun mencoba membalas tatapan matanya. Benar. Kali ini dia serius. Dia mengeluarkan cincin dari sakunya. Memegang tanganku yang lemas karena semua kejutan ini.
Apa? Dia serius? Dia serius dengan semua ini?
“Aku benar-benar telah menetapkan hati ini pada satu nama. Kau Jasmine. Sejak mata ini tepat jatuh pada matamu.”
Kutangkis cincin yang berada tepat diujung jari manisku. Menggelinding. Begitu juga butir air mataku yang tiba-tiba menggelinding dari cangkangnya tanpa aku sadari. Kenapa aku menangis? “Maaf Nang. Aku belum bisa.” Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dia tersenyum.
Hari ini hari Rabu. Sebuah rumah sakit jiwa di magelang yang berdiri megah itu menjadi tempat kunjungaku pagi ini. Ditemani seorang Tante Anisa, kami hendak menjenguk sahabatku Shelly. Sudah lima tahun dia mendekap di pondok itu. Tiga tahun lalu dia adalah gadis cantik juga cerdas. Dia adalah sahabtku. Dan karena sesuatu yang disebut CINTA-lah yang membuatnya menjadi demikian. Tiga tahun lalu dia mencintai seorang laki-laki bernama Fiksi, sahabatku juga. Mereka saling mencinta, tapi tak ada yang berani membuka pintu terlebih dahulu, hingga Fiksi, menutup pintunya untuk selama-lamanya. Dia meninggal di hari pertunangannya. Dia sudah mempersiapkan dengan matang kejutan pertunangannya itu. Aku pun membantu sedikit menyiapkan karangan bunga untuk Shelly kala itu. Hingga pada akhirnya kami menunggu hingga malam telah pergi. Sampai kabar kematianlah yang kami dengar. Bagitulah akhir dari cinta yang dikandung sahabatku, Shelly.
Lantas bagaimana denganku? Aku sendiri belum paham betul dengan cinta. Sepanjang perjalanan aku hanya melamun, sibuk dengan pedalamanku yang terus menderu. Mempertanyakan kesungguhan rasa yang ada dibaliknya. Bagaimana bisa? Aku belum mengenal cinta sebelumnya? Bagaimana aku bisa mengindikasi apa itu cinta? Yang aku tahu, hatiku terasa sesak dan penuh dengan teaterikal kemarin malam.
Sampai di sana, Shelly pun datang dengan seorang suster. Dia nampak pucat dan kurus, mungkin susah makan. Matanya bergerak mencari lelaki yang membuatnya seperti ini. Sungguh tak kuat hati melihat sahabatku ini terpenjara dalam dunianya yang penuh fatamorgana. Shelly pun mengamuk karena orang yang diharap kedatangannya tak juga dijumpa. Aku pun memeluk erat tubuhnya yang mulai tak terkendali. Air mataku mengalir tak terbendung lagi. Seakan lupa dengan Lanang dan segala rayuan gombalnya. Dalam hitungan satu-dua-tiga-empat perempuan ini lumpuh dalam pelukanku, setelah jarum tertusuk padanya. Ada perasaan hangat yang hadir dalam dadaku. Mengenalkan sebuah rasa yang amat besar dan mendalam. CINTA. Sama dengan apa yang kurasakan terhadap Lanang.  Jadi inikah yang namanya cinta?
Sebuah pesan singkat tertulis di layar ponselku. Lanang.
Maaf atas kelancanganku.
Perkenankanlah diriku untuk mendapat maaf darimu.
 Ada sesuatu yang harus aku sampaikan.
Kalau tidak keberatan, kutunggu di taman pelangi, kamis, jam tujuh malam.

Kamis malam ini berbeda dengan kamis lainnya. Meskipun belum yakin betul dengan perasaanku, tapi laki-laki bernama Lanang berhasil mencoret-coret lembar hidupku dengan berbagai warna tinta. Gadis seusiaku merasakan jatuh cinta yang pertama kalinya. Seperti ABG telat saja. Tak apalah, aku rasa aku sudah siap dengan apa yang akan dikatakan Lanang. Lamaran itu, aku rasa sudah Jari manisku siap menjadi tempat bersemayam untuk cintanya. Ya. AKU SIAP.
Lima menit sudah menanti, Lanang datang dengan perempuan yang cukup cantik.
“Kenapa dia tidak kau ajak ke sini?” dengan polosnya kutanyakan pertanyaan itu.
“Ah, tidak masalah hanya sebenatar saja.”
“Ajaklah adikmu ke sini, kenalkan denganku.” Lanang hanya tersenyum padaku. “Biarkan dia di sama saja.”
“Ada sesuatu yang ingin kamu katakan Nang? Maaf soal yang kemarin.”
“Tidak masalah, aku menghormati keputusanmu. Karena memang cinta tidak pernah bisa dipaksakan.” Ada kata-kata yang mengusik kecepatan detak jantungku. “Kau memang tidak pernah bisa mencintaiku.” Lanang pun memfonis perasaanku dengan seenaknya. Namun dia tak memberiku kesempatan untuk membuka mulutku. “Maaf atas semua kebodohanku yang pernah mencintaimu.”
Degup jantungku semakin kencang saja, semakin berat saja syaraf untuk membuka mulut ini. “Dan kau tak perlu khawatir. Aku tidak akan pernah lagi memintamu untuk menjadi pacarku.”
Nafasku terasa berat. Nyawaku seperti hendak melayang. Aku berusaha fokus, tapi gagal. “Bulan depan aku menikah.”
Petir..!! Halilintar..!! Ledakan bom..!! Semua jatuh tepat pada inti jantungku. Meledak membuat syaraf air mataku... Tidak!! Aku harus menahannya. “dengan dia, Namanya Anita.”
“hahaha,, Bagaimana Jas? Kau senang kan? Akhirnya ada juga yang mau dengan orang jelek sepertiku.” Aku masih saja mematung melihat matanya yang berkaca-kaca bahagia. “Sebagai sahabatku, kau harus bahagia Jas. Iya kan?”
“Hahahaha.. ” tawa pun meledak menyembunyikan nanar yang membara. “Aku senang sekali.” Entah bagaimana wajahku, aku tak bisa membayangkan.
“Mungkin terlalu cepat. Bukan berarti aku main-main denganmu kemarin. Itu beneran. Tapi aku juga tak bisa memungkiri. Setelah tiga bulan kau menolakku, anita datang dengan segenggam cintanya yang genap dan tulus. Dia temanku sejak SMA. Lagian wanita sesempurna dirimu memang tidak akan pernah mencintai laki-laki bodoh sepertiku.”
“Tapi terimakasih, ada banyak cerita yang telah terekam dalam bingkai kisah hidupku Jas.”
Rasanya berat sekali melebarkan senyum yang tulus dari bibir yang membiru ini. Aku harus memaksanya untuk tersenyum.
Kaki-kaki manusia itu perlahan menjauh dari pandanganku. Dunia menjadi kelabu, tanpa warna, tanpa suara, tanpa aroma. Air mata itu akhirnya sukses meluncur pada pipiku. Deras.
Biarkan saja, jarum-jarum ini merajam jantungku. Aku tak ingin menahannya, aku tidak ingin menyusul Shelly dalam dunianya. Cukup dia saja yang menjadi korban kegaanasan cinta. I must be strong.
Hari ini adalah hari kamis, hari pertamaku mengenali apa itu cinta, dan hari pertama pula mengenali apa itu sakit hati. Tidak masalah, Setidaknya dia berhasil. Berhasil membangunkan perasaanku yang selama ini tertidur.



#Pekalongan, Juli 2014S

2 comments: