Monday, September 16, 2013

Tuan dan Budak


Kau menolong, tapi Anda membutakan
Kau sederhana, tapi Anda tak bisa disederhanakan
Kau memang baru, tapi apakah yang lebih dulu bisa menjamin
Kau ini ada dari tangan kami, Tapi kami berlutut di tangan Anda
Benda ajaib apa Anda ini?
Harusnya kami yang lebih ajaib bukan? Tapi kenapa Anda?
Bahkan matahari tak mau menampakkan sinarnya
Air pun enggan menyejukkan
Apalagi bunga yang bosan menebar keindahannya
Kami ini siapa Anda? Atau Anda ini siapa kami?

Harusnya kami yang menggertak
Kami harus keras
Bahkan lebih keras dari keras yang biasanya
Bukan bibir saja yang pandai berdansa
Tulang kita tak boleh bergaji buta
Sudahkah?
Jadi, siapa Tuan? Siapa Budak?

Yogyakarta, 17 September 2013

Friday, September 13, 2013

Tidak Lagi



(puisi)
Sekarang Tak susu lagi
Air bukan lagi mengucur
Salah pula jerit
Apalagi rengek? Harusnya musnah

Hijau menguap dihembus waktu
Waktu melambat digerus warna
Pelangi pun menebal, apalagi hitam
Mereka enggan berubah, tapi harus

Katak tak lagi berudu
Kupu-kupu bukanlah lagi ulat
Mata memang lebih tajam harusnya
Jemari lebih luas mengenggam
Lisan tak harus membuat nisan
Ah, Semoga kaki bisa tepat pada sepaunya

Memang uban belum mau keluar, apalagi keriput
Tapi bukan, bukan lagi gigi susu

PADA SIAPA?


(puisi)

Aku bertanya pada siapa yang harus menjawab
Tapi, aku hanya kerikil kecil yang terkurung dalam jendela kertas
Aku mencari arah ke mana harusnya kakiku berlabuh
Tapi, aku sayap rapuhku tak mampu melewati badai
Aku ingin menyalahkan, Tapi pada siapa?
Rasa marahku tertahan di tenggorokan, Tapi hendak kutuangkan pada apa?
Aku jengkel, tapi bagaimana?
Aku sangat benar-benar gondok, tapibagaimana?
Aku merasa kehadiranku adalah sebuah kesalahan
 Kesalahan yang terjadi tumpukan kesalahan lainnya
Aku punya kisah yang aku sendiri tidak ingin tahu akan ujungnya
Abu-abu, bahkan lebih tidak jelas dari itu
Jadi, pada siapa mulut ini harus menganga?

Di Ujung Mimpi




(puisi)
Kulihat sebuah pulau yang kaya warna dan aroma
Dari Ujung lembaran emas berkilauan mengundang makna
Pulau dengan kepala bundar bergoyang-goyang
Dengan lekukan tangan dan leokan tubuh yang berdendang
Canting menari meledakkan garis dan warna
Sebuah titik-titik menuju bineka tunggal ika

Saat Aku keluar rumah, bola mataku melihat jemari kecilnya memainkan gamelan itu,
Tua muda mencumbui angklung dan saron tanpa memakai cadar
Senyum liar dan tanpa nanah
Saat kakiku melaju di jalanan, qirab manusia dengan balutan corak dan warna
Sarat akan kisah dan diorama
Alun-alun berteriak gembira, mendendangkan cublak-cublak suweng
Rerumputannya meliuk-liukkan pingul dan pinggangnya
Seperti pulau yang berdiri dia atas pulau itu
Mataku melelehkan tawa dan cerita

Saat aku melihat segunung emas, sebutir debu menyambar retinaku.
Aw,,,!! Perih rasanya
Tiba-tiba bau busuk menggelitik hidungku
Badai sahara menyerang tubuh rapuhku
Aku menggeliat tak tahan
Cakrawala mengaung kesakitan
Di mana aku? Tolong bangunkan aku?

Pulau itu,
Pulau itu sekarang jauh lebih megah,
tapi kenapa? Tubuhku terasa begitu gatal
Hanya pulau megah
Megah...!
Tapi laksana antariksa tanpa bumi matahari
Rongsokan...!
Sampah..!
Surga yang semu
Di mana aungan angklungku?
Di mana badai jaipongku?
Ke mana aroma rempahku?
Ke mana semuanya lenyap? Termakan pelangi dari surga barat?
Ke mana aku harus mengais tutur halusmu, bibir tulusmu
Aku hanya sedang merindu
Merindu kekasihku, kekasih di ujung mimpiku

Yogyakarta, 2013

Tarian Merah Putih


(puisi)
Sebuah jejak telah menjadi sajak
Berbalut tanah yang digarang berlaksa emas
Cemara berkelana mengitarinnya
Mengeratkan jemarinya dan bersorak trlalala

Sang tua menanam padi
Sang muda menyiangi
Sang tua menebar jala
Sang muda hilir membuntuti

Katulistiwa membentang menyulam nada dan irama
Irama sumbang, Telinga tak tuli tapi
Warna pudar, Mata berbinar tapi
Aroma bangkai, hidung tak segan bersua tapi
Karena Kaki berdiri tepat Merah putih menari
Karena Bangkai lekat dengan baunya

Berdirilah benang-benang megah Merah Putih
Sebuah akar nurani
Mengalir deras sampai tak berujung
Walau, matahari menyakiti, Merah putih tetap menari di atas tanah hijau ini
Inilah benih sang Pancasila, yang selalu dirindu bebauannya

yogyakarta, 2013

Monday, September 9, 2013

ANKORMAN














“Ayaaah..!” teriak anak laik-laki berusia lima tahun yang sedang berdiri di depan singgahsana Ayahnya dengan pakaian supermannya. “Sekarang Deden nggak mau jadi Superman lagi. Deden maunya jadi Korupman aja. Kata Mas Bimo, Kakaknya Abi, kalau Deden jadi Korupman, Deden bisa beli apa saja. Bisa beli permen, coklat, mainan, es krim, sepeda baru, mobil-mobilan, dan semuaaaanyaaa. Nanti Deden beliin Ayahdan Bunda mobil. Asyik kan yah?” ceritanya panjang lebar sambil menarik-narik celana Ayahnya dengan senyum yang sempurna.

“Iya, terserah kamu,” jawab Ayahnya rendah, seakan tidak memperdulikan apa yang dikatakan anaknya itu. Dia hanya terus menggoyangkan jemari tangannya di atas panggung keyboard, sambil meneguk kopi hangat yang tersedia.

“Yes..!” Teriaknya sambil meloncat, “Deden besok dibeliin kostum Korupman ya Yah.”

“”Hmm..” jawabnya dengan nada kesal. “Tidur sana. Sudah malam.”

Deden pun segera masuk ke dalam kamarnya, membenamkan kepalanya di balik selimut, dan terlelap dalam alunan mimpi. Saat itu pun, Bu Joni, Istri Pak Joni, pulang dari pengajian di kampungnya.

“Assalamualaikum,” salam Bu Joni pada Suaminya yang masih setia menemani Laptop dalam ketenangan malam.

“Waalaikumsalam, udah plang to Bu?”

“Iya Pak, Deden udah tidur?”

Pak Joni hanya mengangguk, lalu tangan kananya di cium oleh Istrinya.

“Sudah jam segini belum tidur juga Pak? Entar sakit lagi,” uajrnya khawatir.

“Iya Bu, sebentar lagi kelar. Ibu tidur dulu saja.”

“Ndak mau dibikinin kopi dulu Pak?” tawar Bu Joni.

Pak Joni menggelengkan kepalanya dan melanjutkan pembuatan tugasnya sebagai lurah di desa itu. Bu Joni pun membalik badannya dan berjalan menuju kamarnya. Tampaknya ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Dia merasakan kekhawatiran yang besar terhadap Suaminya. Namun dia tidak tahu apa yang dikhawatirkannya.

Saat matahari mulai mengintip kehangatan pagi, Deden telah siap dengan sarapan paginya di hari libur ini. Dia tengah duduk di meja makan bersama Ayah dan Ibunya.

“Yah, mana baju Korupmannya?”

Ayahnya hanya diam dan melanjutkan sarapannya.

“Yah, mana kostumnya..?” rengek Deden.

“Korupman apa to Den? Bunda nggak paham.”

“Kata Mas Bimo, aku pantes jadi Korupman. Kalau jadi Korupman Deden bisa dapetin apa saja yang Deden mau.” jelas anaknya.

“Maksudnya….Deden, kamu nggak boleh jadi Korupman. Korupman itu di benci sama Allah.”

“La terus sekarang Deden jadi apa? Deden nggak mau jadi Superman lagi, Deden bosen.”

“Yaudah, kamu jadi…’ANKORMAN’ gimana? mau nggak?” usul Bu Joni atas rengekan anaknya.

“Ankorman? Apa itu Bun?” tanya Deden penasaran.

“Ankorman itu ‘Anti Korupsi Man’. Kamu akan memberantas kejahatan para korpsi. Tugasnya juga mulia dan disayang sama Allah. Baguskan?” terang Bu Joni.

“Oh, gitu ya Bun. Baiklah, mulai sekarang Deden adalah ANKORMAN.”

Deden pun segera melahap sarapan paginya dengan sigap. Setelah itu dia segera pergi keluar rumah untuk bermain dengan teman-temannya.

Di dalam kamar, Pak Joni dan Istrinya sedang bersenda dengan serius.

“Pak, kenapa ya banyak tetangga yang membicarakan tentang Bapak. Kemarin, Ibu-ibu pengajian juga tak sedikit yang mengatakan bahwa bapak itu Lurah yang doyan korupsi. Apa Bapak..” belum selesai Bu Joni berkeluh, Pak Joni segera menyambung kalimatnya.

“Ibu percaya kan sama Bapak?” tanyanya dengan nada rendah, tapi dalam. Pria itu memandang dalam mata istrinya dengan penuh keyakinan.

“Pak, Ibu percaya sama Bapak. Fitnah apa yang melanda keluarga kita. Kenapa deden juga harus ikut-ikut terkena imbas. Dia kan hanya anak kecil.”

“Sudahlah Bu, biarkan semua seperti itu. Kita jalani aja arus kehidupan ini. Kita serahkan semua kepada Allah.”

Jawaban Pak Joni menenangkan jiwa Istrinya. Dia pergi ke dapur untuk membuat makan siangnya. Sedangkan Pak Joni berangkat ke kantornya untuk melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai lurah.

Siang hari setalah puas bermain, Deden pulang sambil membawa lelah dan peant di balik wajahnya. “Bun, laper. Makan ya.”

Deden pun teringat dengan kata temannya, kalau mau jadi Ankorman, dia harus menyiapkan kertas bekas, tali, pistiol-pistolan, dan jaket tebal. Dia pun mengambil semua barang yang disiapkan. Setelah makan siang Deden pun melanjutkan tugasnya sebagai Ankorman bersama teman-temannya.

Deden pun beraksi bersama teman-temannya. Mereka membentuk penjahat dan polisi, kecuali Deden, dia tetap menjadi Ankorman.

“Wah.. Ada Korupsi..!” teriak Deden saat melihat temannya yang berperan sebagai Koruptor bersembunyi di balik pohon. “Akan ku terkam kau..Tembaaak..” Deden pun melemparkan kertas-kertas bekas yang diambil dar rumahnya yang telah ia remas menjadi bola-bola. “Duer-Duer”, “Booom”, “Ciew-ciew”, teriak anak-anak yang mendapat peran sebagai polisi dengan pistol mainan yang melekat di tangan kanannya. Saat koruptor tertangkap, Deden dengan gaya pahlawannya, mengikat koruptor itu dengan sigap dan kuat.

“Tinju Ankor..!”

“Hahahaha,” serunya, “Akulah Ankorman.” Para polisi pun berlutut kepadanya dan segera menangkap para koruptor.

Datangnya sore memaksa mereka untuk berpisah dan segera mandi untuk menghilangkan kelelahan dan kegersangan tubuh. Karena lelahnya, Deden lupa untuk membawa kembali barang-barang yang dibawanya tadi. Di jalan nampak kertas-kertas yang telah digunakan deden dalam bermain tersebar di mana-mana. trlihat seorang laki-laki memungut kertas tersebut dan tanpa sadar membacanya. “Laporan Keuangan”… Laki-laki itu menjadi sadar saat dirinya berjumpa dengan kata uang. “Tertanda, Joni Soeroto”. orang yang menemukan kertas itu segera memunguti semua kertas-kertas yang berserakan. Dia membaca cermat karats-kertas itu, dan dia segera menyenbarkan apa yang dia ketahui ke semua warga.

Malam hari, Pak Joni sedang makan malam bersama keluarganya. Sausana hening memberi corak tersembunyi di dalam rumah iitu.

“Bun, tadi Deden jadi Ankorman lho. Ternyata sangat menyenangkan ya Bun? Deden bisa menangkap para koruptor dengan jurus keju ajaib, boom super, dan yang paling mematikan, tinjuan ankor.”

Bundanya pun menanggapi, “Wah, pasti menyenagkan ya Den.”

“Tapi Bun,” seru Deden, “koruptor itu ap sih?”

Belum sempat Bu joni menjawab, Tiba-tiba terdengar kerumunan orang berjalan ke muka rumahnya. Seketika mereka bertiga keluar dari rumah dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa to Ibu-ibu, Bapak-bapak. Kok malam-malam beginibikin rebut segala?” tanya Pak joni cemas.

“Halaah, ngak usah pura-pura ngak tahu Pak. Dasar tikus bau..!” sentak salah seorang warga.

“Kita ajar aja hajar aja sama-sama,” seru warga yang lain.

“Iya,, bakar saja.”

“Hanguskan rumahnya.”

Berbagai macam kecaman keluar dari berbagai mulut warga. Sebagian warga juga melempari kertas ke arah Pak Joni dan keluarganya. Dengan kebetulan Bu Joni menangkap kertas tersebut dan membacanya.

“Waah, kaya Ankorman..!! Asyik, aku mau lempar-lempar juga.” seru deden dengan nada polosnya.

Bu Joni pun membaca kertas itu perlahan, dan…. dia terhentak mundur dan segera memegang tangan suaminya erat.

“Ada apa Bu?”

“Pak, apa semua ini benar?” tanya bu Joni sambil memperlihatkan kertas yang dipegangnya.

“Bu, Bapak bisa….”

“Jawab saja Pak…!! Iya atau tidak?” belum selesai bicara suara Bu Joni yang bagaikan petir menggelegar mendarat tepat di telinga Pak Joni.

Pak joni terduduk gontai memandang warganya yang berwajah haus akan kebencian.

“Maafin Bapak Bu,” ujarnya dengan suara lemah.

Dengan kepolosan yang sama, Deden pun mengeluarkan jurus andalannya pada Ayahnya, “Jurus ankor..!!”. Deden benar-benar menganggap semua ini hanya bagian dari sekenario drama yang di peran utamai olehnya.

Setelah mengalami beberap siding, Pak Joni harus bersemayam dalam jeruji besi. Ankorman pun, selalu mengunjungi Ayahnya yang sendirian di balik kedinginan.

“Bu, Bapak minta maaf. Titip Deden ya.”