Sunday, October 30, 2016

Nyatanya Mereka Ada


Resensi Novel Manusia Harimau – Eka Kurniawan
Setidaknya saya harus bersumpah serapah atas 50 ribu yang saya bayar untuk kisah yang hanya menceritakan pembunuhan mitologi ini, beserta kisah-kisah berahi di dalamnya. Meskipun akhirnya saya menyadari puji-pujian harus saya bayar lebih pada mas Eka Kurniawan atas segala keindahan yang disuguhkan dalam kisah pembunuhan mitologi itu pula. Sebingkai kisah pembunuhan seorang anak manusia bernama Margio yang memiliki harimau putih di dalam tubuhnya. Hanya itu. Sesingkat itu. Lainnya hanyalah serapah tarik ulur kisah-kisah dibalik pembunuhan itu, yang mebuatku kejang saking nikmatnya. Ya. Serapahan itu tak henti-hentinya membuat saya berkomat-kamit merapal pujian.
Jika kamu pikir novel ini berceritakan mengenai manusia-manusia tampan bertubuh ateltis dengan roman receh, atau barangkali jika kamu berfikir buku ini berkisah tentang manusia jadi-jadian yang kemudian suka makan orang, maka pulanglah dan pakailah popokmu. Jangan lupa minum susu dulu.
Bagi saya, hampir dari keseluruhan keindahan dari buku ini adalah lahir dari eksistasnsi kisah ini yang asali, tidak buat-buat dan begitu lekat dengan kehidupan nyata itu sendiri. Sementara harimau hanyalah pemanis untuk melumuri kisah ini menjadi lebih magis dan mencekam. Hampir dari keseluruhan kisah ini adalah nyata dan begitu lekat dengan kehidupan di masyarakat. Dan Mas Eka menyuguhkannya dengan lembut, realis, tanpa hiperbolik yang berlebihan. Dia tidak memaksa pembaca untuk luruh dan tenggelam dalam kisah itu melalui pendekatan batiniah yang berlebihan. Namun, Mas Eka menyajikan diksi yang begitu realis, begitu nyata, sehingga tanpa diminta, kita bisa merasa benar-benar berada di dalam, bahkan merasa harus ikut andil terhadap konflik-konflik yang terjadi.
Soal alur, jangan tanyakan pada saya betapa pusingnya menelaah alur ini. Begitu menyebalkan, twisted, Namun disitulah titik indahnya sehingga kita merasa tidak bosan dengan serapah yang sebenanrya kita usah tahu.
Dan pesan saya bagi para ortodok, barangkali lebih baik meletakkan Alquran atau Alkitab dekat-dekat dengan buku itu. Karena kisah-kisah berahi begitu nyata menari di pelipis mata, tidak menutup kemungkinan tiba-tiba kalian ikut terjebak dalam berahi atau malah melemparnya dan segera membakarnya.
Bagi saya pribadi, karya indah Mas Eka ini tiada lain adalah sebuah sarkasme besar bagi orang-orang yang menyadarinya. Bagaiamana tidak? Nuraeni si gadis setengah gila karena dikecewakan suaminya kemudian dia selingkuh dengan tetangganya, Anwar Sadat lelaki hidung belang yang hobi menjamah gadis-gadis rumah plesiran, Laila si gadis cantik yang mebiarkan lelaki manapun bertamasya pada kewanitaannya, begitu juga adiknya Maesa. Semua kedangkalan prilaku itu barangkali menjijikkan, namun dibalik jerih kemiskinan dan kebohodan itu adalah tanggung jawab bagi kita, bagi kaum yang terpelajar. Atau setidaknya tahu bahwa hal semacam itu semestinya bisa dicegah. Bukankah tugas dari kau terpelajar adalah menjawab persoalan di masyarakat.

Setidaknya saya harus bersyukur, Mas Eka menampar saya melalui kisah cinta Margio dan Maharani yang terpaksa harus tandas karena kebodohan orang-orang disekitarnya, saya menjadi sadar bahwa lingkungan saya sedang tidak baik-baik saja. Terimakasih atas keindahan diksi dan susuan kata yang membuat mulut saya menganga berkali-kali.

Friday, October 28, 2016

Mas Din


Sudah saya bilang saya pasti menikah. Pasti. Mungkin bulan depan. Atau barangkali keberuntungan datang di bulan berikutnya. Setidaknya saya memancarkan sinyal pada setiap lelaki yang saya rasa pas untuk jadi imam saya. Dan saya rasa sikap Ibu menjodoh-jodohkanku dengan peranakan rekanannya terlalu berlebihan. Apalagi tetiba datang di rumah saya di Jogja dengan sejumlah bunga, lelaki yang tak saya kenal, dan kemudian dia memperkenalkan diri, dan dia memberitahu saya sudah mendapat restu orang tua saya. Sebercanda inikah cara Ibu?
Saya bisa mengatasi ini sendiri.
Barangkali Ibu sakit hati dengan jawabanku soal Mas Din. Tetapi bukan dengan cara mengirim pria berjas-berdasi-berkoper-bermobil-bersepatu mengkilap-bercincin akik ke jogja. Saya tidak mempermasalahkan lingkaran perut pria tersebut yang terlalu mencolok, bisa jadi kalau cocok saya bisa memilihnya. Setidaknya beritahu saya. Pertemukan kami dengan baik-baik. Ah. Saya tidak paham lagi jalan pikiran Ibu. Dan setiap saya mencoba membuka sedikit perbincangan dapur, ibu selalu saja mengungkit-ungkit Mas Din lagi. Dia lagi.
Saya bisa mengatasi hal ini sendiri. Setidaknya soal jodoh, itu masalah mudah bagi saya. Saya punya banyak mahasiswa yang berusia tidak jauh berbeda dari saya. lima sampai tujuh tahun paling bedanya. Tinggal saya pilih yang saya rasa cocok. Mereka tak akan mampu membuat negosisoasi selain mengiyakan.
Atau, barangkali dengan mahasiswa saya sendiri itu terlalu bercanda, saya punya banyak rekanan dosen. Pak Amri misalnya, dokter hewan spesialis Kuda, duda beranak tiga. Ganteng, gagah, anaknya juga lucu-lucu. Lebih-lebih mereka sudah akrab dengan saya. Dan apa yang perlu saya khawatirkan lagi kalau-kalau Pak Amri jelas-jelas menyukai saya. Setidaknya saya tahu dari kabar burung, meskipun entah burung siapa.
Tapi kenapa Ibu sedemikian khawatir dengan saya? Saya belum juga terlalu tua. Bahkan kalau boleh saya membuat frasa, ‘lagi mateng-matengnya’. Masih segar menyegarkan.
Soal cucu? Bukankah ibu sudah menimang lima cucu. Lucu-lucu dan menggemaskan. Dua dari Dik Tari, dua lagi dari Dik Pras, dan satu lagi bonus. Ibu mengadopsi dari panti. Apakah kurang?
Ah, barangkali saya lupa soal mulut-mulut itu. Yang rendah tapi memekakan, yang tidak terdengar tapi membuat telinga pekak. Iya, barangkali itulah yang membuat ibu memaksaku untuk segera menikah. Sebagai anak pertama, dilangkahi menjadi sesuatu yang tabu. Bahkan sebagian orang di kampung kami dianggap sebagai penghambat jodoh bagi yang didauhuli oleh adiknya. Sementara saya, kesemua adik saya sudah menggenap. Meskipun usianya tidak berbeda jauh. Tapi, bukankah sejak Ustad Ali datang menabur wasiyat tentang bab agama, Beliau selalu bilang bahwa hal itu tidak korelatif, pasal nikah, Sang adik mendahului kakaknya, menghambat jodoh, menutup jodoh, barangkali warga kami sudah mulai mengubur pasal itu. Bukankah Mbakyu Lena, yang bahkan sudah dilangkahi tiga adik laki-lakinya, baru menyudahi masa sendirinya kemarin sore, di usianya tiga puluh tujuh tahun. Beruntungnya dia, bahkan mendapat saudagar kaya, berusia sedikit lebih muda. Setidaknya itu bisa menjadi dalih bagi saya. Sebuah inspirasi dikemuningnya persoalan yang sedang melanda saya, bukan?
Bukan, bukan. Ini pasti bukan pasal mulut-mulut itu. Terlalu remeh juga kalau ini soal cucu-cucu. Ini pasti soal Mas Din. Tidak salah lagi.
Bukankah minggu lalu Mas Din menelpon saya. Memberitahu akan datang ke rumah Ibu. Iya. Ini pasti karena dia Mas Din. Apa yang dilakukan Mas Din di rumah? Kiranya dia tega menceritakan semua tentang kita? Atau Mas Din menceritakan yang bukan-bukan, barangkali ditambahi penyedap sehingga Ibu semakin megap-megap.
Tapi bukankah Saya sudah tidak bertemu dengan Mas Din lebih dari setengah tahun lalu. Sejak dia meninggalkanku dengan boneka beruang –sebesar beruang asslinya, yang bisa kupeluk bahkan seperti kasurku sendiri– di kelas. Sebagai dosen, dan juga dokter hewan, saya merasa sangat melankolis mendapatkan hadiah dari mahasiswa saya. ketika kelas sudah berakhir, Mas Din, mahasiswa dokter spesialis bedah dan bedah plastic hewan yang sangat menunjukkan kecerdasannya di kelas, tidak terlihat batang hidungnya. Hingga saat saya hendak keluar kelas, boneka itu menghalangi saya tepat di mulut ruang kelas. Kemudian dia berbicara, bagaiaman mungkin suara beruang adalah suara Mas Din. Saya sungguh terperana olehnya. Sialnya dia begitu kejam menghilang. Menghilang tepat setelah semalaman saya memeluk boneka beruang itu.  
Ah, bagaiaman malah figura itu yang muncul? Menghilangnya adalah pekat. Bahkan mematikan. Saya harus benar-benar melupakannya.
Kemudian untuk apa Mas Din datang ke rumah? Pasti dia menceritakan segalanya. Pada Ibu.

(bersambung…)

Monday, October 24, 2016

Bingkai yang Tersapu Angin


Bukankah ini menarik. Gambar-gambar yang tertangkap lensa pada sudut dan waktu yang tepat. Dengan intensitas cahaya yang pas, serta dibumbui sepoi angin, adalah kala yang tepat untuk membingkai momen dalam sebuah potret. Dan itu akan menjadi lebih indah jika kau ada di antara waktu dan ruang yang sama.
Aku tengah memilih diantara gambar yang sengaja telah kucetak cukup banyak. Kutata dan kurangkum potret demi potret yang melukiskan keindahanmu. Yang mengabarkan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Aku selektif dalam memilih gambar terbaik tentang dia. Aku ingin karya indah ini menjadi sebuah totalitas bagiku dalam mengagumi sebuah rasa. Tentang sebuah rasa yang mungkin orang-orang biasa menyebutnya dengan cinta.
Hari ini adalah hari yang kutunggu tunggu. Bukan karena hari ini aku ingin memberikan hadiah ini kepadanya, tapi karena bagiku. Setiap detik aku bisa melihatnya adalah sebuah alasan yang membuat aku selalu ingin hidup dan terus mensyukuri hidup. Bagiku pertemuan dengannya adalah surga yang Tuhan bisikkan padaku.
 Hai kau. Gadis yang menamatkan hatiku. Aku pikir aku adalah lelaki yang bisa berdamai dengan waktu. Berdamai dengan setiap kerinduan yang membuatku selalu haus. Nyatanya tidak. Aku dehidrasi. Bahkan tengggorokan ku terasa kering. Karena menanti hadirnya kelembutan cinta darimu.
“Sore…“ Kamu tersenyum.
Hening,
“Ini beneran nggakpapa akang ajak kamu jalan.”
“Gapapa Kang, mumpung masih di Cirebon. Pekan depan Mimi udah harus balik  ke Jogja. Lagian udah lama juga nggak ngobrol sama akang.”
Baiklah, Aku tidak akan membuat seharianmu ini sia-sia. Aku tidak akan membiarkanmu menyesali perjalanan kita sore ini. Percayalah.
“Kang Madi bawa kamera kan?”
Aku mengangguk, kamu terlihat antusias sekali. Kemudian kau merengek manja. Memintaku untuk mengajarimu menggunakan kamera. ah. Lucu sekali.
“Jadi begini, Mi.” Tanpa sengaja tangan kami bersentuhan, “Bagian ini untuk mengambil fokus, nah yang ini untuk mengatur intensitas cahaya, sedangkan yang ini untuk ketajamannya. Sekarang coba ”
“Wah iya bagus.. ” Kemudian kamu tertawa. “Sepertinya saya butuhs model Kang, biar gambar saya lebih sempurna.”
Aku pura-pura menoleh. Ke kanan ke kiri. Padahal aku berharap kamu memintaku.
“Kang Madi, sok ateuh.” suaramu lembut menggelegarkan hatiku. persis seusai yang kuinginkan. Tapi aku melongo. Pura-pura bingung.
“Kang, buruan. Mumpung sepi. bediri di sana.” Kamu tertawa lagi. Ah lucunya.
Dan aku berdiri persis di depan kamera yang kau peganag. Menggumpalkan senyum terindah yang bisa kuberikan. Kuberharap dapat memberikan kesan terbaik pada gambar yang kau ambil.
Katamu “Sok ganteng kamu, kang.” Dan aku pun tersenyum malu. Bukan. Malu yang bercampur bahagia. Karena dengan ini kamu mengakui ketapananku. Ah. indahnya saat kau memujiku demikian.
Dan hari itu menyenangkan. Yang pertama karena aku bisa jalan dengan kamu. Yang kedua karena kamu mau jalan denganku. Dan yang ketiga, kamu kelihatan begitu bahagia. Dan itu menggenapkan perasaanku.
Tidak terasa waktu pun menggelincir begitu landainya hingga tirau senja menggantung di ujung katulistiwa. Ah, barangkali cinta dapan mengubur waktu dalam-dalam. Setidaknya aku merasakan kebahagiaan. Dan yang lebih penting, aku merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan.
Aku jadi teringat dengan kado yang sudah kusiapkan. Foto-foto tentang dia yang sudah kurangkum dalam bingkai yang indah. Beserta dengan puisi-puisi yang sudah kurangkai begitu penuh dengan hati. Yang bahkan –andai kau tahu- aku membuatnya hingga aku lupa makan dan tidur. Supaya kamu terkesan. Supaya kamu tahu selama ini aku menyukaimu.
Kalau begitu, kenapa tidak aku katakana saja padamu secara langsung. Setelah ini. Bahwa aku mencintaimu. Tidak. Tidak sekarang. Aku belum sanggup. Lebih baik aku tunggu dulu reaksimu setelah kuberikan hadiah ini. Iya. Seperti itu lebih baik.
Dan tiba-tiba –karena mungkin aku terlalu lelap dalam lamunanku- aku terjatuh. Sebuah batu yang cukup besar menumbangkan kakiku. Aku tersandung, dan diluar kendali tubuhku mendorong mu. Kita terjatuh. Semua isi tas kelaur berantakan. Berserakan dijalan. Semua mata tertuju pada kita. Keget, terkesiap, melongo, dan diam.
Aku panik dan memunguti semua barang yang keluar. Pun dengan dirimu yang sama halnya dengan ku. Isi tasmu juga keluar. Berantakan. Da hadiah itu. Kumpulan foto tentangmu dengan berbait-bait puisi itu, ikut terjatuh. Terbuka. Tepat pada halaman yang memperlihatkanmu begitu indah dan cantik. Dan buku itu jatuh tepat di depanmu.
Kemudian kamu mematung. Aku pun mematung melihatmu. Malu. Takut. Gugup. Terlilit jadi satu. Kau pun tersenyum. Apakah ada ekspresi yang lebih baik yang bisa kuberikan selain membalas senyummu?.
Pada detik itu juga aku gemetar. Semacam genderang bertabuh kencang dibalik dadaku. Bahagia yang mungkin teramat kencang. Sehingga sulit membedakan apakah aku ini benar-benar bahagia atau ketakutan.
Loh? bahagia? Atas dasar apa aku bahagia? Emang kalau kamu bahagia, itu berarti kamu menyukaiku. Sebentar.
“Ini apa, kang?”
“Itu buat kamu.”
Kemudian kamu tersenyum lagi. Dan dengan sembunyi-sembunyi kau mencoba mengambil salah satu foto yang terserak di depanmu.
Sembunyi-sembunyi? kenapa harus demikian? Ada yang aneh. Itu bukan koleksi fotoku. Itu bukan dariku. Itu bukan foto yang kutata dengan penuh penghayatan. Itu bukan foto yang kuambil. Tapia da wajahmu di sana. Dan.. seseorang disampingmu. Memelukmu.. Dan kalian tersenyum merekah. Dengan background hati merah muda. Mesra.
Hening.
Hening.
Hening.
Kemudian kamu memandangku. Menatap. Seperti mengatakan banyak sekali narasi lewat tatapan. Mungkin paras muka ku berubah. Berubah dengan signifikan. Sehingga kau menyadari itu. Dan kini. Kamu bingung. Aku pun demikian.
Remuk. Hancur. Gundah. Lusuh.
Hening.
Hening.
Suara Adzan Maghrib.
Dan kau tersenyum lagi padaku.
Hening.
“Kamu suka buku itu, Mi?”
kamu menganguk, sambil membalas, “Iya Kang Madi.” Lirih. Hampir tak terdengar.
“Aku lebih senang mendegarnya.” Bahkan dalam memilih kata-kata pun aku tata. Aku begitu takut dan papa. Lupuh rasanya hati ku ini. Tapi setidaknya pewajahanku kuusahakan sekuat tenaga supaya kuat. Kuat menatapmu.
“Oh iya kang. Sebenarnya saya mau ngasih ini dari tadi.” dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sial, kataku. Jangan-jangan dia mau nenunjukkan foto tadi. Sial. Sial. Jangan sekarang Mimi. Demi Tuhan beri aku sedikit waktu untuk memperbaiki paru-paruku yang bocor. Beri aku sepersekian detik terlebih dulu sebelum kau merajam jantungku lebih payah.
“Ini Kang,”
Glek. Aku menelan ludah.
Mataku terbenam. Sekejap, kemudian mengintip. Dan ternyata aku masih bisa bersyukur di detik-detik itu. Bahkan mungkin nafas legaku terdengar begitu kentara olehmu. Bukan foto tadi.
Kupegang benda yang ia beri padaku. Sebuah Passport? Kamu mengajakku jalan-jalan ke luar negeri?
“Datang ya, Kang. Mimi mau nikah akhir bulan Juni.”
Selanjutnya hening. Hening. dan Hening lagi. Atau barangkali aku lupa apa yang aku lakakuan setelah itu.


*passport yang dimaksud adalah undangan nikah dengan desain seperti passport.

Sunday, October 23, 2016

Izinkan aku mengenal Tuhan

                Pada akhirnya, semua orang bakal mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Seorang religious, seorang brandal, gelandangan, agnostic, mempercayai God does exist. bahkan seorang atheis pun akan menggantungkan diri pada suatu yang ia percayai, dalam keadaan yang tidak ia sadari atau mendesak. Yakni pada Sesuatu Yang Mengatur bahkan di setiap hirup nafas manusia. Setidaknya kesimpulan itulah yang bisa saya sarikan dari kisah heroik, surealis, -yang bahkan dianggap sebagian orang hanya sebagai kisah dongeng semata- yang didapat dari 460 lembar kisah Pi, yang ditulis oleh Yann Martell yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dengan judul asli Life of Pi.
Pada awalanya saya bingung, dalam testimoninya dijelaskan bahwa Buku ini adalah buku yang bakal membuat orang percaya adanya Tuhan. Namun, ditengah perjalanan saya seringkali dibuat bingung. Karena hampir 80% kisahnya adalah tentang kehidupan Pi Patel dalam sebuah sekoci dengan Harimau bengal. Lainnya sedikit membahas tentang agama, dan sedikit tentang kebun binatang.
Dan ternyata pada kisah itulah Tuhan menunjukkan eksistensinya. Orang yang menggunakan rasionalitas akal sehat dan hitung-hitungan scientific matemastis, biologis, dan zoologi tidak akan percaya bahwa Kisah Pi itu benar adanya. Terdampar dari kapal barang milik Jepang saat proses pindahan dari India menuju Canada, kemudian dia menaiki sekoci ditemani Orangutan, Harimau, Hyena, Tikus, juga Jerapah. Selama 277 hari ia terombang-ambing di Samudra pasifik. Dengan keterbatasan makanan dan minuman, dan yang paling irrasional adalah Si Pi Petal ini bisa hidup berdampingan selama itu.
Ya, karena Tuhan ada diatas batas kemampuan kita. Dia ada jauh diluar batas-batas rasionalitas kita. Karena percaya tidak selalu soal gelap terang, tidak soal sesuatu yang harus dan bisa dibuktikan secara matemastis. Seperti halnya cinta, kepercayaan adanya Tuhan adalah keniscayaan. Mau tidak mau, itu pasti terjadi.


Tuesday, August 30, 2016

Pak Lurah Semple



“Mas, Aku nggak pernah minta yang aneh-aneh ya. Aku tidak pernah minta dibelikan pesawat atau dibangunkan istana. Aku juga tidak pernah diajak keliling dunia. Aku tidak pernah minta dibelikan intan berlian. Mas nggak pernah ngertiin aku. Mas nggak pernah ngertiin aku. Aku hanya minta mas ngertiin aku. Hanya itu, Mas. Pokoknya malam ini Mas tidur di luar. Titik.” Matanya hampir keluar, suaranya nyaring memekakan telinga siapa pun, bahkan beberapa tetangga turut keluar.
“Di luar kamar?”
“Di luar rumah.” Seikat sarung kucel berisi bantal guling di lempar oleh perempuan bergincu ungu, bersanggul-berambut hitam kecoklatan, bermata belo, berbadan sedikit bongkok dan tidak begitu cantik-biasa saja. Dan apabila naik pitam, perempuan itu bisa berubah menjadi srigala. Menakutkan.
Perempuan itu tergopoh menutup pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Dikunci.
---
Saya sudah curiga. Semenjak pindahan saya ke tempat ini, saya sudah mencium aroma yang tidak baik. Kecurigaan saya yang berujung pada tebak-tebakan atas diri saya sendiri. Bagaiamana tidak, setiap orang penduduk asli yang saya tanyai pasti mereka tertawa, atau tersenyum nyengir, ngakak, atau menyuruh saya untuk tidak mempertanyakan itu, atau menyuruh saya diam. Saya tidak pernah mendapat jawaban atas pertanyaan saya ini.
“Nyuwun sewu, Pak Lurah. Saya Topan, saking Kecamatan Belodeh. Badhe nderek pindah wonten desa mriki, ini berkas …. ”
“Oh, Monggo Pak Topan, lenggah pinarak riyen. Badhe ngunjuk nopo?” Belum usai saya berbasa-basi, Beliau memintaku duduk. Mungkin terlihat kaku pagi Lurah semacam Pak Semple melihat calon warga barunya yang masih canggung berdiri di depan kantornya.
 “Tidak usah, Pak Lurah. Saya cuman mau ngasih surat keluar dari keluarahan saya yang sebelumnya, dan ini surat keterangan pindah, dan berkas-berkas lainnya.”
“Yo, yo, yo.” dengan parasnya yang penuh kewibawaan Pak Lurah paham betul dengan maksud tujuanku, “Sudah, pokoknya kamu harus duduk dulu. Warga baru saya harus dilayani dengan baik.”
“Mboten, Pak Lurah, saya langsung saja.”
Dan perawakan dan kata-katanya yang luwes membuat saya susah untuk pergi meninggalkan ruang tamu kelurahan itu, “Sudah duduk to, sedang dibikinkan Wedang teh khas Desa Ambyar. Kamu pasti suka.”
“Maturnuwun, Pak”
Kemudian Pak Lurah menceritakan teh desa andalannya kepada saya. Saya tidak begitu memperdulikan waktu itu, Karena saya fokus memperhatikan tata ruang Pak Lurah Semple yang begitu klasik dan rapih, tidak seperti kelurahan lainnya.
“Kenapa, Pak Topan?” Karena mungkin terlalu khusyuk menikmati ruangan, Pak Lurah Semple memergoki saya yang terkagum.
“Anu, Pak. Bagus sekali ruangannya. Beda dari kelurahan-keluarahan yang pernah saya lihat.”
“Wah iya jelas beda. Ini didesain khusus oleh Ibu.”
“Wah, Istri Pak Lurah berbakat juga dalam desain interior ruangan, boleh nih Pak buat bantu desain rumah saya.”
“Istri?” Pak Lurah memandang saya penuh tanya. Kaget dengan raut muka yang terkejut. Saya pun demikian. Dalam batin, apakah ada dari kata-kata saya yang salah, atau menyakiti hatinya. Saya mencoba mengeja kembali kata-kata saya dalam benak. Saya terdiam. Ah, mungkin cuman perasaan saya.
Tiga hari setelah itu, saya datang kembali berkunjung. Kali ini saya berkunjung ke rumahnya, bersama istri dan kedua anak saya. Kedatangan kami tiada lain untuk memperkenalkan kaluarga saya kepada Pak Lurah Semple. Ya, malam itu memang saya agendakan untuk bersilaturrahim satu per satu ke rumah tetangga baru kami. Sekalian hendak memberi kabar bahwa akhir pekan depan kami mengajakan acara syukuran atas rumah baru kami.
“Assalamualaikum, Pak Lurah.” Ucap istri saya usai mengetuk pintu. “Assalamualaikum.”
Tidak ada yang menjawab. Lampu ruang tamu terlihat gelap dari luar. Sepertinya tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam.
Braaaaaakk!!
Suara pintu terbanting keras sekali terdengar dari dalam rumah. Kami berempat pun dibuat kaget. Beberapa saat kemudian suara riuh orang ramai.
“Mas tega. Kenapa membelikanku longdress yang hijau?”
“Loh, kan kamu sendiri yang kemarin bilang minta dibelikan yang hijau.”
“Kapan?” suara perempuan teriak kencang sekali.
“Kemarin malam.”
“Lah kan itu kemarin. sekarang ya sekarang. Kemarin ya kemarin. Sekarang aku mintanya merah. Titik.”
“Lah, malam malam begini mana ada yang buka?”
“Pokoknya merah.”
Istri saya menarik-narik baju saya. Kedua anak kami hanya diam tak mengerti urusan orang tua. “Mas, kita pulang saja. Lain kali kita ke sini lagi.”
Aku mengangguk. Namun tepat saat badan kami berbalik, terdengar suara dibalik pintu, “Eh, ada tamu to,”
Seketika kami berempat pun berbalik, Mendapati perempuan tua-sedikit lebih tua dari Pak Lurah Semple. “Sudah dari tadi menunggu? mari masuk.” Kami berdua pun mematung salah tingkah.
“Mangga, masuk.” Raut mukanya yang lembut yang sama sekali tidak sesuai dengan teriakannya beberapa menit lalu, membuat kami tidak kuasa untuk menolak.
Tiga puluh menit berselang. Setelah kami ngobrol ngalor ngidul tentang desa ini, tentang sinetron favorit, tentang fashion, pasar terdekat, dan pernak-pernik lainnya, Pak Lurah Semple muncul juga. Dia datang dari luar rumah. Menenteng kantung pllastik berlabel supermarket kenamaan di daerah tersebut.
“Eh, ada Pak Topan dan keluarga.” Lembut berwibawa. Seperti biasanya. Kami pun membalas sepantasanya.
“Ngurusi kelurahan itu sekarang ribet semakin ribet. Semua serba online. Orang jadul seperti saya harus banyak belajar dari yang muda-muda.”
Basa-basi, batin saya. “Kebetulan Pak lurah datang, saya hendak pamit bersama keluarga. Terimakasih sudah menyambut kami dengan hangat.” Usai bersalam-salaman kami melepaskan diri dari dalam rumah itu.
“Maaaaaas!!!” Baru sepuluh meter melangkah dari rumah terdengar teriakan yang serupa dengan teriakan sebelumnya. “Kan aku bilang hijau. Hijau. Ini apaaaa?”
“Lah kan ini hijau?”
“Hijau daun, Mas. Hijau. Ini bukan hijau. Busuk.”
“Lah, kamu minta saya beli lagi?”
“Jadi, mas menuduhku? Mas bilang aku suka menyuruh-nyuruh orang. Suka merintah-merintah orang seenaknya?”
“Terus?”
“Ya, pokoknya saya mau hijau daun. Bukan yang seperti ini.”
“Lebih baik saya beli lagi?”
“Mas itu bagaimana? Sebagai lurah, Mas Semple jadi boros tukang belanja. Belanj terus belanja terus. Lurah itu harus memberi tauladan bagi masyarakatnya. Maaas. Maaas.  Mas emang tidak pernah ngertiin aku.”
Istriku menarik lenganku gegas meninggalkan rumah itu.
Sudah saya bilang. Saya sudah curiga semenjak pertama bertemu. Kejadian seperti itu bukan hanya malam itu saja. Dua malam yang lalu, Bu Lurah mengusir Pak Lurah tidur di luar rumah. Pokoknya saya harus tanyakan langsung padanya. Besok. Saya tidak bisa membiarkan prasangka ini berkembang di kepala saya.
---
Duduk. Berdiri. Jongkok. Berdiri. Jongkok. Berdiri. dan seterusnya.
Seperti biasanya, setiap jumat pagi Pak Lurah dan aparaturnya menggelar senam pagi. Biar sehat dan bugar katanya.
“Semangat sekali Pak Lurah.”
“Wah iya, harus semangat pokoknya.”
“Ibu ndak ikut?”
“di rumah.”
Entah ada yang salah atau tidak dengan percakapan saya dengan Pak Lurah, tapi orang-orang dibelakang Pak Lurah tersenyum cekikikan. Ada juga yang mencoba menahan.
“Pak Lurah, saya boleh tanya sesuatu sama Jenengan?”
“Wah iya, silakan.”
Saya takut untuk menanyakan langsung terkait kejadian-kejadian yang membuat kepala saya diracuni prasangka. Untuk memecah keakraban, saya mencoba melucu.
“Nama Pak Lurah itu asli? Semple maksud saya.” Seperti dikomandoi, semua aparatur tertawa tebahak. Bahkan yang tadi menahan tertawa ikut pula tertawa. Bahkan juga Pak Lurah ikut tertawa.
“Lah iyo. Bapak saya dulu ngasih nama Semple. Itu saja. Lucu ya? Saya juga suka tertawa sendiri. Tapi itu yang membuat saya bangga.”
Natural, saya pun ikut tertawa,
“Istri Pak lurah juga suka tertawa mendengar nama Pak Lurah?”
Wajah Pak Lurah kembali berubah. Persis saat saya menebak istrinya yang mendesai ruangan kantornya. “Kok Pak Topan istri saya terus? Mas topan tidak tahu kalau saya ini duda?”
Aku kaget-penasaran. Pun dengan Pak Lurah. “Lalu, perempuan yang semalam di rumah itu siapa?” Dengan lancangnya-lepas kontrol-lidah saya berucap.
“Saya ndak tahu.” Pak Lurah bingung. Pak Lurah benar-benar bingung. Dan orang yang ada pada saat itu tertawa lebih keras.
“Saya tidak ingat betul perempuan itu siapa. Emang siapa? Pak Topan kenal?” dan pak Lurah malah berbalik tanya pada saya. Dan orang-orang makin riuh saja tertawa.
Sekejap berikutnya hilang. Semua tawa riuh tadi hilang. Diikuti dengan wajah yang kuncup merunduk seperti bocah yang ketahuan mencuri mangga tetangga. Dan ternyata perempuan itu datang. Perempuan yang membuat saya banyak berprasangka itu datang.
“Selamat pagi, Mas.” Sapa perempuan itu pada Pak Lurah.


Tuesday, August 23, 2016

Hati Dihujan Badai


Saya tidak menduga bisa menjadi seperti ini. Saya pikir lelaki yang datang ke rumah saya dengan tato di sepanjang lengan kanannya itu hanya singgah. Sebatas malam itu. Karena malam itu sudah terlampau hanyut, hujan tiada kunjung berhenti dan halilintar semakin terang-terangan mentubi. Saya tidak pernah menduga. Lelaki yang menggedor-gedor pintu keras sekali, dini hari, dengan keadaan basah kuyup, bibir kecu seperti digincu biru, kini tidur sekamar denganku. Di sebelahku. Satu ranjang denganku. Saat ini.
Saya biarkan detak jantung memburu hebat. Dua cangkir teh hangat -satu tanpa gula untuk ayah, saya hidangkan untuk ayah dan tamunya.  Nampak dua pasang mata yang sedari tadi bersitegang, terpecah oleh kedatangan saya. Bergegeas saya suguhkan di atas meja dan kembali ke dalam. Dengan menunduk, tanpa berani melemparkan sepandang mata pun.
Betapa Tuhan menggodaku untuk mendengar apa yang dua lelaki itu bicarakan. Apalagi? Dua pria dewasa, berbicara serius tanpa canda, sesekali menyebut nama saya. Apalagi kalau bukan pasal pernikahan? Kemudian bibir ini perlahan merapal nama Tuhan. Mungkin itu satu-satunya cara yang biasa saya lakukan saat benar-benar getar.
Bagaiamana mungkin ayah akan menikahkanku dengan lelaki itu. Pria yang dikenalnya baru satu bulan yang lalu. Pria yang bahkan bagi saya sendiri tidaklah cukup baik. Bagaiamana tidak?
Malam itu, ketika seisi rumah sepenuhnya tidur, Hujan deras menghujam langit kotaku. Gelap malam sepenuhnya menyelimuti. Dibubuhi bintang dan secarik bulan ditepinya. Dan saya masih terjaga. Entah pukul berapa tepatnya, ketika saya berada tepat dalam persimpangan mimpi, pintu rumah kami tergedor kencang sekali. Kencang sekali. Beberapa saat dan terhenti.
Antara takut, penasaran, dan khawatir, berulat jadi satu. Perlahan saya menerobos gelap menuruni tangga menuju pintu. Kudapati ayah sudah lebih dulu berada tepat di balik pintu tengah bercakap dengan seorang yang tidak bagitu jelas terlihat dari tempat saya. Yang jelas dia seorang pria, basah kuyup, dan bertato di lengan kananya. Saya tidak banyak bergerak, hanya beberapa hal yang terlihat.
Percakapan berlalu cukup singkat, samar-samar tidak jelas. Yang kuyakin, pria itu datang untuk menumpang menginap.
Pagi pun datang. Saya yang semalaman tidak bisa tidur karena merasa atmosfer seisi rumah terganggu dengan kedatangan pria itu. Bukan berlebihan, entah kenapa perasaan saya mengatakan demikian.
Ayah, adik saya yang masih kecil-Fahjan, dan lelaki bertato itu, sholat pada barisan depan. Sedang saya dibelakang. Entah apa cuman perasaan saya saja atau bukan, saya merasa lelaki itu gusar. Bahkan terlihat limbung. Dan tiba-tiba ia bergidik dan mengisak. Air mata perlahan menderas dari pelipih matanya.
“Kau kenapa, Nak.” Sambut Ayah segera usai salam.
Lelaki itu tidak menjawab, dia malah menutupi wajahnya malu. Mungkin malu karena takut terlihat cengeng, atau
“Saya, ini sholat pertama kali saya semenjak sepuluh tahun terkahir.” Suasana hening, dan dia semakin terisak menangis dan mencoba menahannya.
“Tadi siapa, Yah?” Usai lelaki itu pamit pulang, saya segera melepas penasaran.
“Kerabat Ayah, Semalam dia mendapat musibah. Mobilnya dibawa lari orang. Dia tidak tahu harus ke mana di tengah badai semalam.”
“Di bawa lari orang?”
“Iya, mantan istrinya.”
“Ayah mengenal pria itu?”
“Iya, baru saja semalam.”
---

Kami berdua duduk bersitatap, saling menepis pandang untuk melepas kecanggungan. Ayah berusaha meyakinkan saya, sementara saya masih belum menerima alasan ayah. Namun, bukannya sebagai anak perempuan seharusnya saya takdim, patuh dengan yang Ayah sarankan. Selagi itu baik. saya yakin ayah punya alasan lain yang tidak diceritakan semua kepada saya. Ayah menyembunyikannya.
“Ayah merasa Awan cocok buat kamu, Put.” Ayah kembali mengulang kata-katanya, terus, dan terus meyakinkan saya. “Perkembanganya dari hari ke hari sangatlah baik. Dia mulai memperbaiki sholatnya, belajar agamanya, ngajinya.”
Saya tidak sanggup membantah, meskipun hati ini ingin berteriak. Bagaiamana mungkin, ayah akan menikahkan saya dengan seorang lelaki yang sholat saja dia tidak tahu, alif  ba ta saja masih kecemotan, apakah Ayah serius memilihkan laki-laki untuk saya? Calon imam untuk saya? Mungkin diam adalah cara yang menurut saya paling baik untuk mengatakan tidak. Tidak ada orang bisa membantu saya. Semua kerabat sepakat dengan tutur Ayah. Andai saja ada Ibu masih ada.
Lima hari lagi, akad akan digelar. Sementara undangan sudah sampai pada tangan-tangan, KUA sudah juga disiapkan, gedung, dekorasi, kenang-kenangan, fotografi, dan segala hal lainnya sudah disiapkan. Sementara hati saya masih saja belum terasa mantap.
Sudah tiga hari sejak bercakapan itu, saya sengaja tidak memperbanyak percakapan dengan Ayah. Akhir-akhir ini ayah sibuk dengan Quran dan tasbihnya. Sedang diri ini saya usahakan tetap tegar, dan selalu meminta petunjuk yang terbaik dari Nya. Entah perlahan saya merasa bisa menerima dengan apa yang Ayah katakan. Perlahan, saya juga bingung dan semakin tidak mnegerti dengan hati ini.
---

Sudah lima hari semenjak hari pernikahan kami. Saya belum berani bersitatap lebih lama dari satu menit, Saya belum berani berbicara lebih lama dari hanya sekedar meenjawab ‘ya’ dan ‘tidak’. Dan apakah hati ini harus tetap saya pertahankan untuk berkeras hati dengan suami saya sendiri? Padahal sejauh ini saya semakin yakin bahwa Ayah benar, lelaki ini semakin hari semakin baik. Tapi, kenapa hati ini masih susah berbalik wajah.

Monday, July 25, 2016

Semester 9

Akhirnya datang juga.

Waktu jadi mahasiswa baru, saya merasa heran. Kenapa kakak angkatan yang sudah mendapati masuk tahun ke 5, menyadang semester 9 ++ dalam dirinya menjadi momok yang menakutkan. Seakan dunia mereka menjadi rumit. Dunia mereka seakan menjadi badai dan petir semata. Dosen Pembimbing begitulah, penelitian beginilah, masih harus ngulang beberapa matakuliah lah, IPK masih nungging lah.
Kemudian dia sok-sokan nasihatin saya, "Selamat ya Dik, ketrima di kampus keren, masuknya susah kan? Ati-ati keluarnya juga susah."  Ada yang curhat di sosmed, ada yang nangis jungkir balik sambil harlem shake |anjaay, lebay dah|

Gods??? Tell me why?? *sambil nyanyi ala SNSD*
Kenapa sih kalian memposisikan diri seakan kalian makhluk paling menderita sedunia, Makhluk yang perlu dikasihani.. Whaaay? *sampe typo kan saya

Kenapa kaaak, kenapa kalian harus ketakutan?? Bukankah Allah mempunyai rencana yang lebih baik dari apa yang kita recanakan, *asek, alim banget dah..* Slowly but slow.. pokoknya sello.. pasti lulus ko, pasti lulus, kuncinya apa? ya dikerjain. bukan dieluhin.

and finally, semester 9 pun datang juga.
Saya yang dulu cupu, lucu, menggamaskan ini mendapati bahwa statsus saya sekarang menjadi semester tua. Mendapati betapa mahasiswa di kampus wajahnya seperti bayi semua. Saya sempat hampir mengumpat, God, kenapa muka saya setua ini, *sumpah, bagian ini garing.*
Meanwhile, saya merasa biasa aja. Saya tidak merasa sebegitu katakutan dan menyeramkan seperti yang dulu dikatakan kakak saya jaman dulu.

Honestly, tujuan nulis ini saya ingin mengatakan bahwa kita kudu biasa aja sebagai mahasiswa tahun ke 4++ . Tapi kenapa pas lagi nulis bagian ini benturan-benturan itu bermunculan. Sebagai mahasiswa semester 9 yang belum lulus, yang masih berjuang, yang masih ngais receh dari saku bapak-sama ibunya, yang masih butuh bobok di kosan ibu kos, yang masih butuh ngerayu dosen buat ngedate, saya merasa ada yang salah dengan tulisan saya. Saya merasa... Sial. Ditambah lagi mulai ada hasrat untuk berumah tangga,
Rumah tangga??
Rumah tangga??
*anjay, kenapa juga kata-kata ini muncul di mari...

udah ye,, saya harus segera lulus.. saya lanjut nykripsi dulu.
doain saya. yang ikhlas, biar sama-sama sampe ke hati.

Monday, March 7, 2016

Internship Experience (Kerja Praktik) in CV Karya Hidup Sentosa a.k.a Quick Tracktor Yogyakarta

Kali ini saya ingin mengceritakan pengalaman menarik, yeah i thought. Its about KP a.k.a. Kerja Praktik.
As an mechanical engineering student, saya harus melaksanakan kerja praktik di sebuah perusahaan. Why? Cause apa-apa yg kita dapat di kelas tidak selalu koheren dengan aplikasinya, in case dalam perindustrian. Jadi sebelum menyabet gelar sarjana teknik kita harus terbiasa dengan dunia industri, dunia kerja dan dunia paska kampus lainnya.

Oke, singkat cerita. saya memutuskan buat KP di CV KHS, Karya Hidup Sentosa. Mungin tidak banyak orang yang tahu. But, when i say QUICK TRACKTOR, everyone maybe familier on it. Yap. Saya melaksanakan Kerja Praktik di sana.

QUICK ini adalah perusahaan milik orang indo. Asli. Not asing. Dari mulai pengecoran, manufakturing, design, assembly, sampe pemasaran, semua dikelola sendiri. And you know..? Pasar QUICK ini udah internasional. We have to proud for it.
Mereka bergerak dibidang alat pertanian dan pengecoran. Mereka mennyediakan berbagai jenis tracktor, dan alat pertanian lainnya. 

Sebelum saya lanjut cerita. Kalian harus tahu dulu nih apa benefit Kerja Praitik di QUICK. check this out.
Pertama, kita akan belajar banyak di sana. Why? Karena kita akan dihadapkan dengan tantangan real seorang engineer. Sesuai peminatan kita. Kalau kita fokus di pengecoran kita akan dikasih problem tentang foundry. Misalnya kita mau belajar desain ya kit akan ditempatkan di desain. Atau apabila kita mau belajar di pompa, maka kita akan ditempatkan di sana. Karena di QUICK tracktor memproses segala sesuatunya dari hulu ke hilir. jadi semua tersedia.

Kedua. Mentornya ramah dan profesional. Kita tidak sekedar dilepas begitu saja setelah mendapatkan problem. Kita akan didampingi terhadap case yang kita hadapi. meanwhile, kalo pun kita g paham, mereka bakal ngasih masukan dan saran terhadap garapan kita. jadi don't worry about our project. Mereka bakal bantuin kita.

Ketiga. QUICK memiliki budaya kerja yang keren. Mereka menerapkan budaya 5S, yang merujuk dari budaya kerja beberapa perusahaan Jepang. Budaya disiplin, respect, inovatif. Kita, sebagai mahasiswa Kerja Praktik, diperlakukan dan memiliki kewajiban yang sama dalam segala tata tertib dan budaya kerja. Bahkan kita bisa makan sebangku dengan bos kita. for me, it is expensive experience..

Keempat. Kerja Praktik di QUICK mendapatkan insentif.  yeeee #prokprokprok... nominalnya tidak saya kasih tahu ya. Yang pasti cukup untuk membeli kerupuk satu kresek. Udah kita belajar, dikasih insentif. kurang seneng apa coba?

Itulah beberapa keuntungan yang bakal didapatkan saat kerja praktik di QUICK. pada akhirnya, apa yang kita caari adalah apa yang bakal kita dapat. Jadikan Kerja Praktik sebagai pembelajaran sebelum benar-benar kita melepas status mahasiswa kita. Meskipun tidak selalu berjalan seirama, seorang engineer harus bekerja di dunia industri. At least, kita bisa belajar dari tempat Kerja Praktik kita.

Terimakasih sudah mau baca tulisan ini. semoga bermanfaat.

ohiya, ada yang kelupaan. Buat temen-temen yang mungkin dari luar Jogja. kos-kosan di sekitaran QUICK murah-murah kok. dari mulai 300K dengan fasilitas yang cukup memadahi.

See ya in another story.. :D :D


-langit reza