Thursday, October 1, 2015

Setengah Tiang



“Tarik saja terus.”
“Nanti talinya putus, Pak.”
“Sudah, paksa saja.”
“Sudah saya coba.” Kata Ojan yang tengah berusaha mengerek bendera dengan sekuat tenaga. “Sepertinya ada yang menyendat,” Tambahnya sambil mendongak ke atas memandangi sang merah putih yang masih nangkring setengah tiang.
***
Sejak jauh-jauh hari orang-orang di kampung bergotong royong. Mereka berbondong-bondong mengecat jalan, mengecat pos Kamling, dan membuat gapura-gapura bertulisan ‘DIRGAHAYU 17-08-45’. Ibu-ibu dan kaum wanita membuat nasi kuning yang dibuat kerucut dengan aneka lauk, seperti tempe kering, perkedel, telur dadar, timun, daun kemangi, ayam dan cabai merah yang dihias apik menggoda lidah. Sedangkan anak-anak ramai mengikuti lomba makan kerupuk, balap karung, manjat jambe, sendok kelereng, dan lainnya. Mereka bilang itulah cara mereka mengingatkan akan kemenangan. Kemenangan akan para leluhur atas para penjajah yang telah meretas habis negeri ini. Mereka bilang demikian.
“Indonesia sudah genap Tujuh puluh tahun merdeka bukan?”
“Untuk ukuran sebuah negara, itu masih terbilang muda. Masih bayi.”
“Bayi katamu? Itu hanya alibi atas persoalan bangsa yang begitu ruwet.”
“Memang Indonesia sudah merdeka?” katanya sambil memberi kode tanda petik pada kata merdeka.
“Pertanyaanmu memang selalu susah dijawab.”
“Tapi, bukankah memang masih terlalu muda untuk sepadan dengan negara-negara di Eropa.”
Ndak usah muluk-muluk disepadankan dengan Eropa. Lihatlah yang paling dekat dengan kita. Sebut saja Malaysia. Tidak bisa dipungkiri. Meskipun aku sendiri sulit menerima, namun kenyataannya Malaysia sudah jauh lebih maju dari kita. Padahal Malaysia lebih muda daripada kita.”
“Iya juga. Tapi …” Pemuda itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Kita doakan saja negara kita ini.”
“Doa saja tidak cukup.”
“Daripada yang tidak pernah sekalipun mendoakannya. Malah mencemooh.” Ujarnya sambil mengusap peluh, “Aku terkadang bingung dengan orang-orang semacam ini. Mereka tidur di tanah ini, makan hasil tanah ini, berbahasa juga Bahasa Indonesia. Namun selalu mencibir negeri ini. Mengolok-olok tiada henti.”
“Itu urusan masing-masing, Jan.”
“Ini masalah fundamen, Kar. Selamanya Indonesia tidak akan ke mana-mana kalau mental orang-orangnya seperti ini.” Ujar Ojan kesal dengan objek yang diperbincangkan.
Ojan dan Afkar kembali melanjutkan gladi bersih untuk persiapan upacara besok. Bendera berhasil diturunkan. Mereka segera melipatnya.
***
Seragam tampak gagah membalut tubuh para petugas. Semua sudah siap di lapangan. pemimpin pasukan, pemimpin upacara, paduan suara, dan posisi lainnya, termasuk juga Ojan dan Afkar yang bertugas mengibarkan bendera. Mereka semua sudah cukup latihan untuk upacara kali ini.
Beratus pasang kaki sudah tertata rapih memenuhi lapangan. Laki-perempuan berbaris sesuai dengan dengan ketinggian. Masyarakat sipil, guru, pelajar, pegawai negeri, semua berbaris untuk memperingati hari yang sakral ini. Termasuk juga Walikota, yang akan menyampaikan amanatnya nanti. Bebenrapa media masa lokal berdatangan untuk mencari bahan pengisi berita.
Setelah pemimpin pasukan menyiapkan pasukan, pemimpin upacara memasuki lapangan upacara. Satu demi satu rangkaian acara berjalan dengan lancar. Bahkan cukup khidmat. Tak ada terdengar satu percakapan pun keluar dari peserta upacara pagi ini. Bahkan dari kalangan pelajar pun.
Ojan, Afkar, dan juga Arsin pun sudah siap untuk gilirannya. Afkar melirik kedua temannya sebagai kode untuk segera siap.
“Gerak!”
Mereka pun berjalan tegak dan rapih. Kakinya perlahan mengombak dan menghentak seirama. Terlihat indah dan harmonis. Mereka berjalan pelan menuju tengah lapangan. Menuju tiang yang berdiri tegak menantang langit. Setelah haluan mereka berhenti dua meter tepat di depan tiang.
“Santai Kar. Sesuai dengan latihan.” Ojan berbisik.
Arsin, sebagai pemegang bendera berdiri tegak memegangi Sang Merah putih. Sementara Afkar dan Ojan mulai mengikat tali bendera pada tambang pengeret bendera.
Dirigen juga sudah menyiapkan posisinya. Wajahnya percaya diri menatap para peserta untuk memimpin lagu Indonesia raya. Jemarinya lentik mengambil aba-aba.
“Hiduplah Indonesia Raya.” Ujarnya mengawali lagu Indonesia raya. Tangannya perlahan mulai meliak liuk naik turun dengan ketukan empat per empat.
Indonesia tanah airku … Tanah tumpah darahku…” Semua peserta menyanyikan lagu Indonesia raya dengan khidmat.
Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku.” Ojan dan Afkar perlahan terus mengerek bendera ke atas. Pelan. Pelan. Sesuai rencana, kata Ojan pada Afkar melalui tatatapannya.
Suasana heroik yang begitu kental mengudara di tengah-tengah panasnya lapangan. Semua mata tertambat pada bendera yang perlahan merangkak menuju singgahsana tertinggi. Angin membuat bendera menari dengan gagahnya.
Namun seketika angin tiba-tiba terasa dingin. Dingin menggigilkan. Terlebih bagi Afkar dan Ojan. Afkar menelan ludah. Dengan cepat keringat membintik di kulit dua petugas bendera ini. Tangan mereka terasa berat tiba-tiba. Tambang yang mereka tarik tersendat tepat saat bendera berkibar setengah tiang.
Mereka berdua saling bersitatap, ditambah Arsin yang juga ikut kebingungan. Sementara lagu masih dikumandangkan.
“Marilah kita berseru Indonesia bersatu.” Suara pun perlahan menjadi sumbang. Ada yang terdiam karena ikut khawatir karena bendera tiba-tiba berhenti di tengah. Ada yang meolotot, ada yang cemberut, ada yang terus menyanyi dengan lantang. Namun lebih banyak yang ikut khawatir melihat bendera yang tersendat setengah tiang.
Sementara Afkar dan Ojan masih bersitatap tegang. Saling mengkode apa yang harus dilakukan. Namun dua-duanya sama-sama tidak tahu harus bagaimana. Mereka berusaha menarik tali pengeret lebih keras lagi.
Pak Endru, pelatih khusus tim pengibar bendera itu, berlari ke arah tiga pengibar bendera. Mereka sempat bersitegang waktu itu. Pak Endru memaksa Ojan untuk menarik pengeret dengan sekuat tenaga. Namun tidak ada hasil.
“Indonesia raya merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta.”
Seseorang lagi ikut datang ke tengah lapangan. Seorang anggota TNI AD dengan badan atletisnya berusaha membantu menarik tali yang dipegang Ojan. Dengan tenaganya yang super, laki-laki berlengan besar itu tidak cukup membuat bendera merangkak naik. Bahkan tak sesenti pun.
“Coba periksa. Mungkin ada bagian yang terselip atau apa.”
“Sudah. Lagunya sudah mau selesai, bendera diikat saja seadanya.”
“Tidak bisa. Tidak boleh diikat setengah tiang. Itu bisa merusak kesakralan upacara ini. Ini hari kemerdekaan bukan waktunya berkabung. Tidak mungkin dibiarkan setengah tiang.”
“Terus bagaimana? Sebentar lagi lagu selesai. Tidak enak juga dilihat orang.”
“Lebih tidak enak kalau bendera berkibar setengah tiang.”
“Sebenarnya ada apa ini. Saya rasa tidak ada masalah dengan bendera, tiang, pengerek, juga katrolnya.”
Melihat itu, dirigen dan para peserta upacara tanpa dikomando ikut memperlambat tempo lagu. “Indonesia raya merdeka merdeka hiduplah Indonesia raya.
Pak Endru dan TNI itu masih bersitegang dan berusaha menarik-narik tali tersebut. Sementara Ojan, Afkar, dan Arsin hanya nyengir getir. Bercampuran emosi gaduh berderu dalam dadanya.
“Sudah. Sudah. Lagu sudah hampir selesai. Ikat saja.”
“Sial.” Kata Afkar dengan cukup keras ditengah ketegangan. “Lihat di ujung tiang itu.”
Hampir serempak mereka menoleh ke atas. “Ada apa? Aku tidak melihat apa pun?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Aku juga tidak melihat apa pun.”
“Pantas saja tidak bisa dikerek lagi.” Tambah Afkar semakin mantap dengan semua kejadian janggal ini.
“Ada apa, Kar?”
“Kalian tidak melihatnya?” Tanya Afkar keheranan. Sedang yang lain hanya melongo dan menggeleng. “Lihatlah! Bendera negara lain tengah berkibar di puncak tiang dengan gagahnya. Mana mungkin merah putih bisa dikerek hingga ke puncak?”
“Sungguh. Kau memang jago melucu, Nak.” Ujar TNI ketus.
“Aku tidak melucu.”
Lagu Indonesia raya pun selesai dinyanyikan. “Hiduplah Indonesia raya.”
Tamat