Tuesday, August 30, 2016

Pak Lurah Semple



“Mas, Aku nggak pernah minta yang aneh-aneh ya. Aku tidak pernah minta dibelikan pesawat atau dibangunkan istana. Aku juga tidak pernah diajak keliling dunia. Aku tidak pernah minta dibelikan intan berlian. Mas nggak pernah ngertiin aku. Mas nggak pernah ngertiin aku. Aku hanya minta mas ngertiin aku. Hanya itu, Mas. Pokoknya malam ini Mas tidur di luar. Titik.” Matanya hampir keluar, suaranya nyaring memekakan telinga siapa pun, bahkan beberapa tetangga turut keluar.
“Di luar kamar?”
“Di luar rumah.” Seikat sarung kucel berisi bantal guling di lempar oleh perempuan bergincu ungu, bersanggul-berambut hitam kecoklatan, bermata belo, berbadan sedikit bongkok dan tidak begitu cantik-biasa saja. Dan apabila naik pitam, perempuan itu bisa berubah menjadi srigala. Menakutkan.
Perempuan itu tergopoh menutup pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Dikunci.
---
Saya sudah curiga. Semenjak pindahan saya ke tempat ini, saya sudah mencium aroma yang tidak baik. Kecurigaan saya yang berujung pada tebak-tebakan atas diri saya sendiri. Bagaiamana tidak, setiap orang penduduk asli yang saya tanyai pasti mereka tertawa, atau tersenyum nyengir, ngakak, atau menyuruh saya untuk tidak mempertanyakan itu, atau menyuruh saya diam. Saya tidak pernah mendapat jawaban atas pertanyaan saya ini.
“Nyuwun sewu, Pak Lurah. Saya Topan, saking Kecamatan Belodeh. Badhe nderek pindah wonten desa mriki, ini berkas …. ”
“Oh, Monggo Pak Topan, lenggah pinarak riyen. Badhe ngunjuk nopo?” Belum usai saya berbasa-basi, Beliau memintaku duduk. Mungkin terlihat kaku pagi Lurah semacam Pak Semple melihat calon warga barunya yang masih canggung berdiri di depan kantornya.
 “Tidak usah, Pak Lurah. Saya cuman mau ngasih surat keluar dari keluarahan saya yang sebelumnya, dan ini surat keterangan pindah, dan berkas-berkas lainnya.”
“Yo, yo, yo.” dengan parasnya yang penuh kewibawaan Pak Lurah paham betul dengan maksud tujuanku, “Sudah, pokoknya kamu harus duduk dulu. Warga baru saya harus dilayani dengan baik.”
“Mboten, Pak Lurah, saya langsung saja.”
Dan perawakan dan kata-katanya yang luwes membuat saya susah untuk pergi meninggalkan ruang tamu kelurahan itu, “Sudah duduk to, sedang dibikinkan Wedang teh khas Desa Ambyar. Kamu pasti suka.”
“Maturnuwun, Pak”
Kemudian Pak Lurah menceritakan teh desa andalannya kepada saya. Saya tidak begitu memperdulikan waktu itu, Karena saya fokus memperhatikan tata ruang Pak Lurah Semple yang begitu klasik dan rapih, tidak seperti kelurahan lainnya.
“Kenapa, Pak Topan?” Karena mungkin terlalu khusyuk menikmati ruangan, Pak Lurah Semple memergoki saya yang terkagum.
“Anu, Pak. Bagus sekali ruangannya. Beda dari kelurahan-keluarahan yang pernah saya lihat.”
“Wah iya jelas beda. Ini didesain khusus oleh Ibu.”
“Wah, Istri Pak Lurah berbakat juga dalam desain interior ruangan, boleh nih Pak buat bantu desain rumah saya.”
“Istri?” Pak Lurah memandang saya penuh tanya. Kaget dengan raut muka yang terkejut. Saya pun demikian. Dalam batin, apakah ada dari kata-kata saya yang salah, atau menyakiti hatinya. Saya mencoba mengeja kembali kata-kata saya dalam benak. Saya terdiam. Ah, mungkin cuman perasaan saya.
Tiga hari setelah itu, saya datang kembali berkunjung. Kali ini saya berkunjung ke rumahnya, bersama istri dan kedua anak saya. Kedatangan kami tiada lain untuk memperkenalkan kaluarga saya kepada Pak Lurah Semple. Ya, malam itu memang saya agendakan untuk bersilaturrahim satu per satu ke rumah tetangga baru kami. Sekalian hendak memberi kabar bahwa akhir pekan depan kami mengajakan acara syukuran atas rumah baru kami.
“Assalamualaikum, Pak Lurah.” Ucap istri saya usai mengetuk pintu. “Assalamualaikum.”
Tidak ada yang menjawab. Lampu ruang tamu terlihat gelap dari luar. Sepertinya tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam.
Braaaaaakk!!
Suara pintu terbanting keras sekali terdengar dari dalam rumah. Kami berempat pun dibuat kaget. Beberapa saat kemudian suara riuh orang ramai.
“Mas tega. Kenapa membelikanku longdress yang hijau?”
“Loh, kan kamu sendiri yang kemarin bilang minta dibelikan yang hijau.”
“Kapan?” suara perempuan teriak kencang sekali.
“Kemarin malam.”
“Lah kan itu kemarin. sekarang ya sekarang. Kemarin ya kemarin. Sekarang aku mintanya merah. Titik.”
“Lah, malam malam begini mana ada yang buka?”
“Pokoknya merah.”
Istri saya menarik-narik baju saya. Kedua anak kami hanya diam tak mengerti urusan orang tua. “Mas, kita pulang saja. Lain kali kita ke sini lagi.”
Aku mengangguk. Namun tepat saat badan kami berbalik, terdengar suara dibalik pintu, “Eh, ada tamu to,”
Seketika kami berempat pun berbalik, Mendapati perempuan tua-sedikit lebih tua dari Pak Lurah Semple. “Sudah dari tadi menunggu? mari masuk.” Kami berdua pun mematung salah tingkah.
“Mangga, masuk.” Raut mukanya yang lembut yang sama sekali tidak sesuai dengan teriakannya beberapa menit lalu, membuat kami tidak kuasa untuk menolak.
Tiga puluh menit berselang. Setelah kami ngobrol ngalor ngidul tentang desa ini, tentang sinetron favorit, tentang fashion, pasar terdekat, dan pernak-pernik lainnya, Pak Lurah Semple muncul juga. Dia datang dari luar rumah. Menenteng kantung pllastik berlabel supermarket kenamaan di daerah tersebut.
“Eh, ada Pak Topan dan keluarga.” Lembut berwibawa. Seperti biasanya. Kami pun membalas sepantasanya.
“Ngurusi kelurahan itu sekarang ribet semakin ribet. Semua serba online. Orang jadul seperti saya harus banyak belajar dari yang muda-muda.”
Basa-basi, batin saya. “Kebetulan Pak lurah datang, saya hendak pamit bersama keluarga. Terimakasih sudah menyambut kami dengan hangat.” Usai bersalam-salaman kami melepaskan diri dari dalam rumah itu.
“Maaaaaas!!!” Baru sepuluh meter melangkah dari rumah terdengar teriakan yang serupa dengan teriakan sebelumnya. “Kan aku bilang hijau. Hijau. Ini apaaaa?”
“Lah kan ini hijau?”
“Hijau daun, Mas. Hijau. Ini bukan hijau. Busuk.”
“Lah, kamu minta saya beli lagi?”
“Jadi, mas menuduhku? Mas bilang aku suka menyuruh-nyuruh orang. Suka merintah-merintah orang seenaknya?”
“Terus?”
“Ya, pokoknya saya mau hijau daun. Bukan yang seperti ini.”
“Lebih baik saya beli lagi?”
“Mas itu bagaimana? Sebagai lurah, Mas Semple jadi boros tukang belanja. Belanj terus belanja terus. Lurah itu harus memberi tauladan bagi masyarakatnya. Maaas. Maaas.  Mas emang tidak pernah ngertiin aku.”
Istriku menarik lenganku gegas meninggalkan rumah itu.
Sudah saya bilang. Saya sudah curiga semenjak pertama bertemu. Kejadian seperti itu bukan hanya malam itu saja. Dua malam yang lalu, Bu Lurah mengusir Pak Lurah tidur di luar rumah. Pokoknya saya harus tanyakan langsung padanya. Besok. Saya tidak bisa membiarkan prasangka ini berkembang di kepala saya.
---
Duduk. Berdiri. Jongkok. Berdiri. Jongkok. Berdiri. dan seterusnya.
Seperti biasanya, setiap jumat pagi Pak Lurah dan aparaturnya menggelar senam pagi. Biar sehat dan bugar katanya.
“Semangat sekali Pak Lurah.”
“Wah iya, harus semangat pokoknya.”
“Ibu ndak ikut?”
“di rumah.”
Entah ada yang salah atau tidak dengan percakapan saya dengan Pak Lurah, tapi orang-orang dibelakang Pak Lurah tersenyum cekikikan. Ada juga yang mencoba menahan.
“Pak Lurah, saya boleh tanya sesuatu sama Jenengan?”
“Wah iya, silakan.”
Saya takut untuk menanyakan langsung terkait kejadian-kejadian yang membuat kepala saya diracuni prasangka. Untuk memecah keakraban, saya mencoba melucu.
“Nama Pak Lurah itu asli? Semple maksud saya.” Seperti dikomandoi, semua aparatur tertawa tebahak. Bahkan yang tadi menahan tertawa ikut pula tertawa. Bahkan juga Pak Lurah ikut tertawa.
“Lah iyo. Bapak saya dulu ngasih nama Semple. Itu saja. Lucu ya? Saya juga suka tertawa sendiri. Tapi itu yang membuat saya bangga.”
Natural, saya pun ikut tertawa,
“Istri Pak lurah juga suka tertawa mendengar nama Pak Lurah?”
Wajah Pak Lurah kembali berubah. Persis saat saya menebak istrinya yang mendesai ruangan kantornya. “Kok Pak Topan istri saya terus? Mas topan tidak tahu kalau saya ini duda?”
Aku kaget-penasaran. Pun dengan Pak Lurah. “Lalu, perempuan yang semalam di rumah itu siapa?” Dengan lancangnya-lepas kontrol-lidah saya berucap.
“Saya ndak tahu.” Pak Lurah bingung. Pak Lurah benar-benar bingung. Dan orang yang ada pada saat itu tertawa lebih keras.
“Saya tidak ingat betul perempuan itu siapa. Emang siapa? Pak Topan kenal?” dan pak Lurah malah berbalik tanya pada saya. Dan orang-orang makin riuh saja tertawa.
Sekejap berikutnya hilang. Semua tawa riuh tadi hilang. Diikuti dengan wajah yang kuncup merunduk seperti bocah yang ketahuan mencuri mangga tetangga. Dan ternyata perempuan itu datang. Perempuan yang membuat saya banyak berprasangka itu datang.
“Selamat pagi, Mas.” Sapa perempuan itu pada Pak Lurah.


Tuesday, August 23, 2016

Hati Dihujan Badai


Saya tidak menduga bisa menjadi seperti ini. Saya pikir lelaki yang datang ke rumah saya dengan tato di sepanjang lengan kanannya itu hanya singgah. Sebatas malam itu. Karena malam itu sudah terlampau hanyut, hujan tiada kunjung berhenti dan halilintar semakin terang-terangan mentubi. Saya tidak pernah menduga. Lelaki yang menggedor-gedor pintu keras sekali, dini hari, dengan keadaan basah kuyup, bibir kecu seperti digincu biru, kini tidur sekamar denganku. Di sebelahku. Satu ranjang denganku. Saat ini.
Saya biarkan detak jantung memburu hebat. Dua cangkir teh hangat -satu tanpa gula untuk ayah, saya hidangkan untuk ayah dan tamunya.  Nampak dua pasang mata yang sedari tadi bersitegang, terpecah oleh kedatangan saya. Bergegeas saya suguhkan di atas meja dan kembali ke dalam. Dengan menunduk, tanpa berani melemparkan sepandang mata pun.
Betapa Tuhan menggodaku untuk mendengar apa yang dua lelaki itu bicarakan. Apalagi? Dua pria dewasa, berbicara serius tanpa canda, sesekali menyebut nama saya. Apalagi kalau bukan pasal pernikahan? Kemudian bibir ini perlahan merapal nama Tuhan. Mungkin itu satu-satunya cara yang biasa saya lakukan saat benar-benar getar.
Bagaiamana mungkin ayah akan menikahkanku dengan lelaki itu. Pria yang dikenalnya baru satu bulan yang lalu. Pria yang bahkan bagi saya sendiri tidaklah cukup baik. Bagaiamana tidak?
Malam itu, ketika seisi rumah sepenuhnya tidur, Hujan deras menghujam langit kotaku. Gelap malam sepenuhnya menyelimuti. Dibubuhi bintang dan secarik bulan ditepinya. Dan saya masih terjaga. Entah pukul berapa tepatnya, ketika saya berada tepat dalam persimpangan mimpi, pintu rumah kami tergedor kencang sekali. Kencang sekali. Beberapa saat dan terhenti.
Antara takut, penasaran, dan khawatir, berulat jadi satu. Perlahan saya menerobos gelap menuruni tangga menuju pintu. Kudapati ayah sudah lebih dulu berada tepat di balik pintu tengah bercakap dengan seorang yang tidak bagitu jelas terlihat dari tempat saya. Yang jelas dia seorang pria, basah kuyup, dan bertato di lengan kananya. Saya tidak banyak bergerak, hanya beberapa hal yang terlihat.
Percakapan berlalu cukup singkat, samar-samar tidak jelas. Yang kuyakin, pria itu datang untuk menumpang menginap.
Pagi pun datang. Saya yang semalaman tidak bisa tidur karena merasa atmosfer seisi rumah terganggu dengan kedatangan pria itu. Bukan berlebihan, entah kenapa perasaan saya mengatakan demikian.
Ayah, adik saya yang masih kecil-Fahjan, dan lelaki bertato itu, sholat pada barisan depan. Sedang saya dibelakang. Entah apa cuman perasaan saya saja atau bukan, saya merasa lelaki itu gusar. Bahkan terlihat limbung. Dan tiba-tiba ia bergidik dan mengisak. Air mata perlahan menderas dari pelipih matanya.
“Kau kenapa, Nak.” Sambut Ayah segera usai salam.
Lelaki itu tidak menjawab, dia malah menutupi wajahnya malu. Mungkin malu karena takut terlihat cengeng, atau
“Saya, ini sholat pertama kali saya semenjak sepuluh tahun terkahir.” Suasana hening, dan dia semakin terisak menangis dan mencoba menahannya.
“Tadi siapa, Yah?” Usai lelaki itu pamit pulang, saya segera melepas penasaran.
“Kerabat Ayah, Semalam dia mendapat musibah. Mobilnya dibawa lari orang. Dia tidak tahu harus ke mana di tengah badai semalam.”
“Di bawa lari orang?”
“Iya, mantan istrinya.”
“Ayah mengenal pria itu?”
“Iya, baru saja semalam.”
---

Kami berdua duduk bersitatap, saling menepis pandang untuk melepas kecanggungan. Ayah berusaha meyakinkan saya, sementara saya masih belum menerima alasan ayah. Namun, bukannya sebagai anak perempuan seharusnya saya takdim, patuh dengan yang Ayah sarankan. Selagi itu baik. saya yakin ayah punya alasan lain yang tidak diceritakan semua kepada saya. Ayah menyembunyikannya.
“Ayah merasa Awan cocok buat kamu, Put.” Ayah kembali mengulang kata-katanya, terus, dan terus meyakinkan saya. “Perkembanganya dari hari ke hari sangatlah baik. Dia mulai memperbaiki sholatnya, belajar agamanya, ngajinya.”
Saya tidak sanggup membantah, meskipun hati ini ingin berteriak. Bagaiamana mungkin, ayah akan menikahkan saya dengan seorang lelaki yang sholat saja dia tidak tahu, alif  ba ta saja masih kecemotan, apakah Ayah serius memilihkan laki-laki untuk saya? Calon imam untuk saya? Mungkin diam adalah cara yang menurut saya paling baik untuk mengatakan tidak. Tidak ada orang bisa membantu saya. Semua kerabat sepakat dengan tutur Ayah. Andai saja ada Ibu masih ada.
Lima hari lagi, akad akan digelar. Sementara undangan sudah sampai pada tangan-tangan, KUA sudah juga disiapkan, gedung, dekorasi, kenang-kenangan, fotografi, dan segala hal lainnya sudah disiapkan. Sementara hati saya masih saja belum terasa mantap.
Sudah tiga hari sejak bercakapan itu, saya sengaja tidak memperbanyak percakapan dengan Ayah. Akhir-akhir ini ayah sibuk dengan Quran dan tasbihnya. Sedang diri ini saya usahakan tetap tegar, dan selalu meminta petunjuk yang terbaik dari Nya. Entah perlahan saya merasa bisa menerima dengan apa yang Ayah katakan. Perlahan, saya juga bingung dan semakin tidak mnegerti dengan hati ini.
---

Sudah lima hari semenjak hari pernikahan kami. Saya belum berani bersitatap lebih lama dari satu menit, Saya belum berani berbicara lebih lama dari hanya sekedar meenjawab ‘ya’ dan ‘tidak’. Dan apakah hati ini harus tetap saya pertahankan untuk berkeras hati dengan suami saya sendiri? Padahal sejauh ini saya semakin yakin bahwa Ayah benar, lelaki ini semakin hari semakin baik. Tapi, kenapa hati ini masih susah berbalik wajah.