Friday, September 13, 2013

Di Ujung Mimpi




(puisi)
Kulihat sebuah pulau yang kaya warna dan aroma
Dari Ujung lembaran emas berkilauan mengundang makna
Pulau dengan kepala bundar bergoyang-goyang
Dengan lekukan tangan dan leokan tubuh yang berdendang
Canting menari meledakkan garis dan warna
Sebuah titik-titik menuju bineka tunggal ika

Saat Aku keluar rumah, bola mataku melihat jemari kecilnya memainkan gamelan itu,
Tua muda mencumbui angklung dan saron tanpa memakai cadar
Senyum liar dan tanpa nanah
Saat kakiku melaju di jalanan, qirab manusia dengan balutan corak dan warna
Sarat akan kisah dan diorama
Alun-alun berteriak gembira, mendendangkan cublak-cublak suweng
Rerumputannya meliuk-liukkan pingul dan pinggangnya
Seperti pulau yang berdiri dia atas pulau itu
Mataku melelehkan tawa dan cerita

Saat aku melihat segunung emas, sebutir debu menyambar retinaku.
Aw,,,!! Perih rasanya
Tiba-tiba bau busuk menggelitik hidungku
Badai sahara menyerang tubuh rapuhku
Aku menggeliat tak tahan
Cakrawala mengaung kesakitan
Di mana aku? Tolong bangunkan aku?

Pulau itu,
Pulau itu sekarang jauh lebih megah,
tapi kenapa? Tubuhku terasa begitu gatal
Hanya pulau megah
Megah...!
Tapi laksana antariksa tanpa bumi matahari
Rongsokan...!
Sampah..!
Surga yang semu
Di mana aungan angklungku?
Di mana badai jaipongku?
Ke mana aroma rempahku?
Ke mana semuanya lenyap? Termakan pelangi dari surga barat?
Ke mana aku harus mengais tutur halusmu, bibir tulusmu
Aku hanya sedang merindu
Merindu kekasihku, kekasih di ujung mimpiku

Yogyakarta, 2013

No comments:

Post a Comment